Opera Jawa: Sebuah Labirin (2026).(Dok. Wot Batu)
WOT Batu akan menyelenggarakan Opera Jawa: Sebuah Labirin (2026), sebuah presentasi cine-concert yang menyusun ulang film Opera Jawa (2006) karya Garin Nugroho ke dalam wujud tanpa warna dan tanpa dialog, diiringi komposisi musik yang dimainkan secara langsung oleh KUNTARI. Pertunjukan berlangsung pada 11–13 September 2026 di Wot Batu, Bandung, selama satu jam setiap harinya, didahului sesi diskusi mulai pukul 16.00 WIB.
Dua dekade setelah Opera Jawa tayang perdana di Festival Film Venesia, film itu kembali dengan bunyi yang sepenuhnya baru. Duo asal Bandung itu menghadirkan musik yang tidak lagi sekadar menjadi latar: komposisi yang merespons gambar, ritme, dan keheningan yang terbuka setelah dialog dilepaskan.
Sunaryo, yang karyanya menjadi bagian dari bahasa visual Opera Jawa sejak awal melalui instalasi Semedi ning Jenar (2006), hadir kembali dalam cine-concert ini melalui lanskap ruang, karya-karyanya, serta layar yang dibangun khusus.
Pertunjukan ini menjadi pengalaman eksperimental yang mengajak film keluar dari format pemutaran konvensional: layar bukan satu-satunya pusat perhatian, sementara musik, ruang, dan cahaya turut membentuk perjalanan sepanjang pertunjukan. Bagi yang pernah menyaksikan Opera Jawa pada 2006, ini menjadi kesempatan menemuinya kembali dalam susunan yang belum pernah dilihat. Bagi yang baru mengenalnya, perjalanan dimulai dari titik yang tak terduga.
Informasi Pertunjukan & Tiket
- Tanggal: 11–13 September 2026
- Waktu: Diskusi mulai pukul 16.00 WIB | Pertunjukan berlangsung selama 1 jam
- Lokasi: Wot Batu, Jl. Bukit Pakar Timur No.98, Ciburial, Kec. Cimenyan, Bandung
- Harga Tiket:
- Early Bird: Rp300.000/hari
- Reguler: Rp350.000/hari
- Reservasi: eratix.id/e/opera-jawa
Sinopsis Opera Jawa (2006)
Opera Jawa (2006) menafsirkan lakon "Penculikan Sinta" dari epos Ramayana menjadi kisah cinta segitiga yang berujung pada konflik, kekerasan, dan kematian. Setio dan Siti menjalankan usaha gerabah di sebuah desa yang dikuasai Ludiro, seorang jagal. Ketika usaha tersebut hancur, Ludiro menculik Siti. Seluruh cerita dituturkan melalui tembang, gamelan, dan tari.
Di balik dramanya, film ini merenungkan hasrat, kekuasaan, dan kekerasan sebagai kritik atas realitas sosial Indonesia. Film ini digarap atas komisi New Crowned Hope, festival di Wina untuk peringatan 250 tahun kelahiran Mozart, dan tayang perdana di Festival Film Venesia.
Profil Sutradara Garin Nugroho
Garin Nugroho (l. 1961, Yogyakarta) merupakan salah satu sineas Indonesia yang paling dikenal di panggung internasional. Bahasa sinematiknya puitis, pendekatannya lintas disiplin. Sejak awal 1990-an, karyanya menelusuri sejarah, mitologi, identitas, dan transformasi sosial-politik melalui penceritaan visual yang kontemplatif.
Film-filmnya, di antaranya Opera Jawa, Kucumbu Tubuh Indahku, Setan Jawa, dan Samsara, telah dipresentasikan di Rotterdam, Cannes, Venesia, dan Berlin. Cine-concert bukan wilayah asing baginya, melainkan bagian dari praktik yang terus berkembang: sebuah cara memperlakukan sinema sebagai ruang pertemuan antara layar dan panggung yang hidup.
Profil Musisi KUNTARI
KUNTARI adalah duo asal Bandung yang menamai sendiri genre musiknya: primal-core. Mereka mengolah bebunyian yang terinspirasi oleh suara naluriah hewan lewat permainan trompet, lalu memperkayanya dengan ragam ritme etnik Nusantara. Dari dentuman perkusi, atmosfer gelap, dan perpaduan dua karakter musikal yang kokoh, lahir dinamika intens dengan denyut ritmis yang terasa purba: organik, mentah, dan liar di setiap penampilan langsung.
Dalam dua tahun terakhir, duo ini telah tampil di 20 negara dan 55 kota di Eropa dan Asia, serta tampil di festival seperti CTM, Unsound, dan Rewire. Mereka pernah berkolaborasi dengan Author & Punisher, Keiji Haino, dan Rully Shabara.
Profil Seniman Sunaryo
Sunaryo (l. 1943, Banyumas) menempuh studi seni patung di Institut Teknologi Bandung. Ia dikenal luas sebagai salah satu perupa terkemuka Indonesia melalui MONPERA Bandung, patung Jenderal Sudirman, dan Bilah Nusantara (kaldron atau tungku api Asian Games 2018). Karyanya kerap menelusuri hubungan antara material, ruang, dan kontemplasi. Semedi ning Jenar adalah instalasi site-specific yang diciptakan Sunaryo untuk Opera Jawa (2006) dan menjadi bagian dari bahasa visual film ini sejak awal.Di kompleks Candi Plaosan, barisan bambu bertanda merah dalam instalasi tersebut menempatkan keheningan bukan sebagai kekosongan, melainkan sebagai ruang kehadiran.
Wot Batu adalah salah satu karya Sunaryo yang menjadi lokasi cine-concert kali ini: 135+1 batu dari pegunungan Jawa yang ia susun menjadi satu lanskap utuh. Dalam bahasa Jawa Kuno, wot berarti jembatan. Sunaryo membangunnya sebagai jembatan spiritual, keseimbangan antara jiwa manusia dan wujud fisik kehidupan. (H-3)


















































