Yesita Vera Saraswati.(MI/Agus Utantoro)
YESITA Vera Saraswati, yang akrab disapa Sita, dinobatkan sebagai wisudawan termuda Program Doktor dalam wisuda pascasarjana periode IV 2026 pada Rabu (28/7). Di usianya yang baru menginjak 27 tahun 10 bulan 8 hari, ia berhasil menyelesaikan pendidikan doktor dengan raihan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) nyaris sempurna, yakni 3,99.
Pencapaian Sita tergolong luar biasa mengingat rerata usia 90 lulusan Program Doktor pada periode tersebut adalah 42 tahun 6 bulan 16 hari. Sita menyelesaikan studinya dalam waktu 3 tahun 9 bulan 10 hari melalui program Pendidikan Magister menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU) di Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM).
Perjuangan di Masa Pandemi dan Manajemen Tim
Sita mengaku awalnya tidak terpikir untuk melanjutkan studi ke jenjang S3 secepat ini. Namun, situasi pandemi covid-19 mendorongnya untuk mengambil peluang program PMDSU. Selama menempuh pendidikan, ia tidak hanya fokus pada studi pribadi, tetapi juga memikul tanggung jawab manajerial yang besar.
"Dinamikanya tidak hanya pada diri saya sendiri, tetapi bagaimana saya melakukan manajerial tim dari berbagai laboratorium. Saya meng-handle sekitar 70-80 mahasiswa S1 dan S2 sejak awal masuk tim sampai sekarang, sembari tetap menyusun disertasi," terang Sita.
Ia tak menampik bahwa proses ini menguras emosi, energi, dan tenaga. Namun, rasa lega menyelimuti dirinya setelah perjuangan berat tersebut membuahkan hasil manis.
Inovasi Genetik Ayam Lokal
Dalam disertasinya yang berjudul Studi Karakteristik Eksterior dan Genetik Ayam Lokal dan Persilangannya, Sita fokus pada pembentukan ayam lokal Galur Baru. Riset ini bertujuan mengoptimalkan potensi genetik ayam lokal Indonesia sebagai sumber protein hewani yang kompetitif.
Proses penelitian ini penuh tantangan dan melalui tahap trial and error yang panjang. Sita dan tim harus melakukan persilangan, memelihara ayam hingga usia 32 minggu, lalu menyilangkannya kembali hingga mencapai generasi kelima. Tantangan lainnya adalah mengoordinasikan tim dengan berbagai minat penelitian, mulai dari nutrisi hingga kualitas daging dan telur.
"Kami berusaha melakukan perbaikan mutu genetik ayam lokal melalui persilangan dan seleksi. Harapannya, penelitian ini dapat dihilirisasi untuk dikomersialisasikan di masyarakat guna menyokong kebutuhan protein hewani nasional," jelasnya.
Keseimbangan Hidup dan Cita-cita Menjadi Dosen
Meski disibukkan dengan riset yang intens, Sita tetap aktif dalam kegiatan sosial, organisasi kampus, hingga seni karawitan. Baginya, menjaga relasi sosial dan keseimbangan kesenangan adalah kunci agar hidup tetap stabil selama masa studi yang berat.
Pascameraih gelar doktor, Sita berencana mengejar cita-citanya sejak SMA untuk menjadi akademisi atau dosen. Ketertarikannya mengajar tumbuh sejak ia sering mengajak anak-anak di kampung halamannya belajar bersama.
"Bagi saya, pembelajaran tidak akan pernah putus meskipun sudah menyelesaikan jenjang S3. Saya berharap dapat menjaga integritas dan terus memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitar," pungkasnya. (I-2)

















































