Ahmad Zainuddin, qari disabilitas netra asal Kota Semarang.(Dok.Istimewa)
AHMAD Zainuddin, qari disabilitas netra asal Kota Semarang, tidak menjadikan gelar juara sebagai target utama dalam mengikuti Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional XXXI di Kota Semarang, Jawa Tengah. Ia mengikuti kompetisi tersebut untuk memperdalam kemampuan membaca dan melantunkan ayat suci Al-Qur’an.
Zainuddin tampil pada cabang Tilawah Disabilitas Netra Majelis 3 di Studio Catwalk BBPVP Kementerian Ketenagakerjaan Semarang, Minggu (13/9). Di hadapan sembilan dewan hakim, ia membacakan Surat Ali Imran ayat 189.
“Bukan niat cari juara, saya niatnya untuk mempelajari tilawah Al-Qur’an itu lebih dalam,” kata Zainuddin, warga Tlogomulyo, Pedurungan, Semarang.
Zainuddin mulai serius mempelajari Al-Qur’an sejak berusia 16 tahun. Ia menimba ilmu di Pondok Pesantren Al Khairat, Jepara. Dalam proses menghafal Al-Qur’an, ia sempat mengalami frustrasi. Namun, nasihat seorang lelaki tua membuatnya kembali termotivasi untuk melanjutkan proses belajar.
Ia kemudian menyadari keterbatasan penglihatan bukan menjadi penghalang untuk mempelajari dan menghafal Al-Qur’an. Menurut dia, pendengaran, pikiran, dan hati dapat menjadi sarana untuk memahami serta menghafalkan ayat-ayat Al-Qur’an.
Sejak itu, Zainuddin aktif mengikuti berbagai ajang MTQ, mulai tingkat kecamatan hingga provinsi. Prestasi terbaik yang diraihnya yakni juara dua MTQ tingkat Provinsi Jawa Tengah di Pati dan Tegal.
Menghadapi MTQ Nasional XXXI, Zainuddin mempersiapkan diri selama sekitar satu tahun. Meski telah menjalani persiapan panjang, ia memilih tidak membebani diri dengan target kemenangan dan menyerahkan hasil perlombaan kepada Allah.
“Alhamdulillah, ini pengalaman yang saya rasakan memang sangat nikmat banget, berkumpul dengan ahlul Qur’an. Teman-teman yang sefrekuensi,” ujarnya.
Sementara itu, qariah disabilitas netra asal Kalimantan Timur, Siti Nurjanah, mematok target berbeda. Ia menargetkan menjadi juara pertama setelah pada MTQ sebelumnya meraih juara harapan satu.
Nurjanah mengaku menjalani persiapan selama sembilan bulan. Ia berlatih dua kali sehari bersama pelatih untuk meningkatkan kemampuan menghadapi kompetisi nasional tersebut.
PIC Majelis 3 Tartil dan Tilawah Disabilitas Netra, Mohammad Asyiq, mengatakan sebanyak 40 peserta dari 37 provinsi mengikuti cabang tersebut.
Babak penyisihan berlangsung mulai Minggu hingga Kamis, sedangkan babak final dijadwalkan Jumat. Materi dan urutan penampilan diberikan kepada peserta satu jam sebelum tampil.
Dalam perlombaan, peserta membacakan ayat Al-Qur’an berdasarkan hafalan atau menggunakan Al-Qur’an Braille. Penampilan peserta dinilai oleh sembilan dewan hakim.
Keikutsertaan para qari dan qariah disabilitas netra dalam MTQ Nasional XXXI menjadi bagian dari pelaksanaan kompetisi yang memberikan ruang bagi peserta dengan beragam kemampuan untuk menunjukkan kemampuan membaca dan melantunkan Al-Qur’an. (E-2)


















































