Aishah Rumaysa Prastowo.(Dokumen Pribadi dari Instagram)
SOSOK Aishah Rumaysa Prastowo, S.T.,M.Sc., D.Phil. merupakan salah satu penerima beasiswa LPDP pada tahap awal. Kini, ia tekun menjadi, kepala sekolah, pengajar dan inspirator di dunia pendidikan. Sosok Aishah bukanlah nama yang yang sembarangan. Ia memiliki rekam jejak pendidikan yang mentereng, mulai dari mulai S1 Teknik Fisika, Universitas Gadjah Mada (2007), lanjut S2 Interdisciplinary Approach to Life Science, Université Paris Descartes (2011) dengan beasiswa dari pemerintah Prancis, hingga S3 Mikrofluida Multifase, University of Oxford (2014) dengan beasiswa LPDP.
Di balik rekam jejak pendidikannya yang mengesankan di luar negeri, Aishah memilih untuk kembali ke tanah air dan untuk mengabdikan dirinya di dunia pengajaran. Perempuan yang menjadi Kepala Sekolah Praxis High Shool mengaku, dirinya memang selalu ada keinginan kembali ke Jogja. Kebetulan saat itu (setelah lulus) dirinya baru menikah.
"Saya orang Jogja dan ingin kembali ke Jogja," kata dia ketika dihubungi Media Indonesia, Selasa (4/8). Dirinya kemudian banyak beraktivitas di dunia pengajaran.
Dari Jogja, ia tetap terhubung dengan dunia global baik selaku pengajar maupun inspirator di dunia pendidikan. Ia pun membawa beberapa kali membawa anak didiknya meraih prestasi di tingkat internasional. Salah satu prestasi yang diraih adalah posisi kedua di EDUtech Asia 2025: Planet Protectors Sustainability Challenge 2025 (5-6 November 2025). Tim Green Pioneers dari PRAXIS High School berhasil meraih Juara II, sedangkan juara I diraih oleh tim dari NUS High School, Singapura.
"Kenapa memilih menjadi guru, bukan dosen? Sepertinya itu pertanyaan sejuta umat. Menurut saya itu pilihan masing-masing," terang dia
Ketertarikannya di dunia pendidikan pun pernah ia tuliskan dalam esai ketika mendaftar LPDP. "Jika diminta untuk memilih bidang di mana saya ingin berkontribusi untuk kemajuan bangsa, saya akan menyebutkan bidang pendidikan dan penelitian," tulis Aishah kala itu.
Ia pun menuliskan keinginannya untuk menularkan semangat penelitian ilmiah kepada anak-anak Indonesia, dengan mengajarkan bahwa sains itu menyenangkan dan tidak harus mahal. Ide dan kreativitas adalah hal yang paling penting.
"Melalui ini saya ingin mengembalikan lagi semangat pendidikan kita, belajar untuk maju dan kesejahteraan umat manusia, bukan sekedar mencari nilai dan gengsi diri sendiri atau sekolah saja," lanjut Aishah.
Jadi Pengajar
Tulisan esai tersebut menjadi kenyataan ketika Aishah memilih untuk menjadi pengajar di Praxis High School. Di Praxis, Aishah mengajar STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics) untuk pelajar sekolah menengah.
Menurut dia, melalui pendekatan STEAM, murid-murid diajak untuk berpikir dalam kerangka ilmiah. "Kemudian bagaimana menggunakan teknologi dan rekayasa untuk menciptakan solusi dari permasalahan nyata, dan juga menggunakan art dan mathematics untuk menjustifikasi solusi yang mereka tawarkan," terang dia.
Ia mengakui belakangan ini STEM memang sedang berkembang, termasuk di Indonesia. Menurut dia, yang terpenting dalam dunia STEAM adalah tentang penalaran. Pondasinya harus dibangun sejak mereka belajar di pendidikan dasar.
Dua dasar kuat yang dibutuhkan untuk mempelajari STEAM adalah kemampuan untuk bernalar dan berhitung. Artinya, pada pendidikan dasar, anak-anak harus dikuatkan literasi dan numerik mereka. "Sulit untuk mengajarkan STEAM jika tidak tahu memahami persoalan dan aljabar," ungkap dia.
Ia juga menyatakan, yang menjadi tantangan dalam pengembangan STEM di Indonesia adalah menentukan arah tujuan pendidikan STEM. "Kita perlu menentukan tujuan arah pembelajaran STEM ini ke mana? Apakah ke Industri atau ke mana?" kata dia. Di dunia pendidikan, dia selalu membagikan keyakinan dan semangat kepada anak didiknya dalam belajar. (AT/P-3)
















































