Strategi Penguatan UMKM di Tengah Perlambatan Ekonomi Global

1 hour ago 1
Strategi Penguatan UMKM  di Tengah Perlambatan Ekonomi Global Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat.(Dok. MPR RI)

SEKTOR Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Indonesia saat ini menghadapi tantangan berat akibat perlambatan ekonomi global dan dinamika domestik. Sebagai tulang punggung ekonomi rakyat, penguatan sektor ini memerlukan kebijakan yang tepat dan kolaborasi lintas sektor untuk menjaga daya tahan ekonomi nasional.

Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat, menekankan bahwa di tengah proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,1% hingga 5,4%, pelemahan daya beli masyarakat menjadi hambatan utama. Menurutnya, persoalan mendasar yang dihadapi pelaku usaha saat ini bukan sekadar permodalan, melainkan minimnya permintaan pasar.

"UMKM adalah tulang punggung ekonomi rakyat. Menghadapi kondisi ekonomi global dan nasional yang cukup berat, perlu dihadapi dengan kehati-hatian dan kebijakan yang tepat," ujar Lestari dalam diskusi daring Forum Diskusi Denpasar 12, Rabu (12/8).

Deputi Bidang Kewirausahaan Kementerian UMKM, M. Riza Damanik, mengungkapkan bahwa saat ini terdapat lebih dari 56 juta unit UMKM di Indonesia. Namun, struktur tersebut masih didominasi oleh skala mikro yang memerlukan peningkatan kualitas secara signifikan.

Kategori Usaha Persentase
Usaha Mikro 96%
Usaha Kecil 1,7%
Usaha Menengah 1,86%

Pemerintah telah menerbitkan Perpres No. 38/2026 tentang Pengembangan Kewirausahaan Nasional sebagai peta jalan 20 tahun ke depan. Fokus utamanya adalah konsolidasi data terintegrasi agar pengembangan UMKM tidak hanya berbasis populasi, tetapi juga peningkatan kualitas produksi.

Ekosistem dan Konektivitas

Tantangan lain yang diidentifikasi adalah terputusnya rantai pasok dan kurangnya keterhubungan antar-pemangku kepentingan. Agus Purnomo Wibisono dari Batoo Farm Adventure menyoroti sulitnya akses bahan baku bermutu seperti benih dan pupuk karena ekosistem produksi hingga pemasaran yang belum terintegrasi.

Senada dengan hal tersebut, Kepala LPPM Universitas Muria Kudus, Wawan Shokib Rondli, menilai perlunya peran perguruan tinggi sebagai sumber inovasi. Transformasi UMKM dinilai sulit berjalan sendiri tanpa dukungan riset dan teknologi dari akademisi.

Solusi Pasar dan Ekonomi Baru

Anggota Komisi VII DPR RI, Yoyok Riyo Sudibyo, mengkritisi dominasi barang impor di pasar domestik yang besar. Ia menawarkan solusi konkret agar UMKM dilibatkan sebagai pemasok bahan baku utama dalam program strategis pemerintah, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG).

Di sisi lain, Eva Kusuma Sundari dari Akademi Perempuan NasDem memperkenalkan konsep care economy yang sedang dikembangkan bersama Bappenas dan ILO. Sektor baru ini, termasuk usaha day care, diprediksi akan membuka lapangan kerja baru yang signifikan bagi UMKM.

Sebagai penutup, wartawan senior Saur Hutabarat mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan UMKM di masa normal. Beliau menekankan penerapan ekonomi sirkular sebagai pola pengelolaan baru untuk memastikan keberlanjutan pertumbuhan UMKM sebagai benteng pertahanan ekonomi saat krisis melanda. (Ant/I-1)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |