Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif (dua kiri) bersama Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan Marsekal Lapangan Syed Asim Munir (kiri), Wakil Presiden Amerika Serikat J.D. Vance (dua kanan), Utusan Khusus AS Steve Witkoff (kanan).(Dok. Government of Pakistan)
AMERIKA Serikat (AS) dan Iran dilaporkan telah mencapai kesepakatan untuk memperpanjang masa gencatan senjata selama 60 hari ke depan. Keputusan ini diambil menyusul berakhirnya tenggat waktu gencatan senjata berdasarkan Nota Kesepahaman Islamabad pada 17 Agustus mendatang.
Informasi tersebut diungkapkan oleh sumber dari Pemerintah Pakistan yang bertindak sebagai mediator. Menurut sumber tersebut, kedua belah pihak telah menyampaikan persetujuan mereka kepada para mediator untuk memperpanjang batas waktu, meskipun saat ini masih berlangsung pertukaran pesan guna menetapkan jangka waktu perpanjangan secara definitif.
Hubungan diplomatik yang dimediasi oleh Pakistan ini telah melewati beberapa fase krusial sepanjang tahun 2026. Berikut adalah linimasa kesepakatan antara AS dan Iran:
| April 2026 | Persetujuan gencatan senjata awal dengan mediasi Pakistan. |
| 17 Juni 2026 | Penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) untuk negosiasi kesepakatan akhir. |
| 8 - 24 Juli 2026 | Eskalasi militer; saling serang antara pasukan AS dan Iran. |
| 17 Agustus 2026 | Tenggat waktu awal Nota Kesepahaman Islamabad berakhir. |
Hambatan di Selat Hormuz
Meskipun ada kesepakatan perpanjangan, pembicaraan menuju perdamaian permanen dilaporkan masih menemui jalan buntu. Titik krusial perbedaan pendapat terletak pada jaminan keamanan dan kebebasan navigasi di Selat Hormuz. Wilayah ini merupakan rute paling strategis di dunia untuk pasokan energi dan perdagangan global.
Ketegangan sempat memuncak pada periode 8 hingga 24 Juli lalu, di mana kedua negara kembali terlibat kontak senjata. AS melancarkan serangan udara ke sejumlah sasaran di wilayah Iran. Sebagai balasan, Iran menyerang fasilitas dan peralatan militer milik AS yang tersebar di beberapa negara Arab, termasuk Yordania, Bahrain, dan Kuwait.
Perpanjangan gencatan senjata ini diharapkan dapat memberikan ruang bagi para diplomat untuk meredakan ketegangan di kawasan Teluk dan mencegah gangguan lebih lanjut pada jalur distribusi minyak dunia di Selat Hormuz. (Anadolu/Ant/I-1)
















































