Kisah Inspiratif Penyandang Disabilitas Engkus Kusnadi Tinggalkan Profesi Gurandil

1 hour ago 1
Kisah Inspiratif Penyandang Disabilitas Engkus Kusnadi Tinggalkan Profesi Gurandil Ilustrasi(Antara)

BAGI Engkus Kusnadi, ketergantungan pada orang lain adalah kata yang tidak pernah ada dalam kamus hidupnya. Pria berusia 47 tahun ini memegang teguh prinsip untuk menjalani hidup dengan keringatnya sendiri, meski harus berhadapan dengan keterbatasan fisik yang nyata. Baginya, hidup adalah perjuangan yang harus dimenangkan dengan usaha, bukan belas kasihan.

"Hidup teh ternyata enggak susah-susah amat," ujar Engkus dengan nada optimis pada Rabu (12/8). Kalimat sederhana ini lahir dari perjalanan panjang yang penuh liku, mulai dari kegelapan lubang tambang hingga menjadi penggerak ekonomi bagi komunitas difabel di lingkungannya.

Jauh sebelum ia dikenal sebagai sosok mandiri seperti sekarang, Engkus pernah melewati fase hidup yang sangat ekstrem. Pada awal tahun 2000-an, himpitan ekonomi dan minimnya akses pendidikan membawanya ke pedalaman hutan Jawa Barat. Di sana, ia bekerja sebagai gurandil atau penambang emas liar.

Mengikuti jejak sang kakak, Engkus kecil harus merayap masuk ke dalam lubang horizontal sempit sejauh belasan meter. Dengan hanya berbekal pahat, palu, dan karung kosong, ia menantang maut di bawah tanah. Ancaman fisik tidak hanya datang dari potensi longsor, tetapi juga kondisi medis berbahaya yang disebut hipoksia.

"Tantangan fisik ekstrem menanti karena harus merayap turun di tengah ancaman kekurangan oksigen," kenangnya. Untuk bertahan hidup di dalam lubang, kelompok penambang biasanya memasang kipas angin besar di mulut lubang yang mengalirkan udara melalui plastik tipis. Setelah berhari-hari meringkuk kedinginan di hutan, mereka harus keluar membawa karung seberat 40 kilogram berisi batu kuarsa mengandung emas.

Menyadari risiko kerja yang tidak manusiawi dan tingginya potensi konflik antar-kelompok, Engkus akhirnya memutuskan untuk berhenti dari profesi berbahaya tersebut dan mencari jalan hidup yang lebih bermartabat.

Membangun Martabat Melalui Roda Dua

Keputusan besar kembali diambil Engkus saat ia memutuskan untuk menikah. Kala itu, ia hanya memiliki uang Rp3.000 di sakunya. Namun, keyakinan bahwa rezeki telah diatur oleh Sang Pencipta membuatnya bekerja berkali-kali lipat lebih keras.

"Saya malu kalau ada orang yang ngasih ke saya karena saya disabilitas. Saya mau orang malah bangga ke saya. Saya ingin membuktikan, orang seperti kami juga mampu," tegasnya.

Perlahan, hasil kerja kerasnya membuahkan hasil berupa motor bebek empat tak berwarna perak. Karena keterbatasan fisiknya, Engkus memodifikasi tangki bensin dengan bantalan kain dan jaket hitam sebagai tempat duduk tambahan saat mengantar penumpang. Meski tidak bisa bergabung dengan ojek daring karena kendala regulasi kendaraan, ia tetap setia melayani pelanggan di pangkalan ojek Cileunyi Wetan sejak pukul 05.00 pagi.

Transformasi Melalui Program "This Ability" PHE ONWJ

Titik balik kesejahteraan keluarga Engkus terjadi ketika ia bergabung dengan kelompok Hasna Mandiri, sebuah kelompok difabel yang mendapatkan pembinaan intensif dari Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ) melalui program bertajuk This Ability.

Di bawah pendampingan PHE ONWJ, Engkus dan kawan-kawannya tidak lagi hanya mengandalkan sektor jasa, tetapi mulai merambah dunia UMKM. Mereka memproduksi berbagai produk berkualitas, antara lain:

  • Kecimpring
  • Keripik pisang
  • Wedang jahe
  • Tumbler berbahan dasar bambu
  • Kertas daur ulang

Dampak ekonomi dari program ini sangat signifikan. Jika dahulu pendapatan Engkus dari mengojek hanya berkisar Rp5.000 hingga Rp20.000 per hari, kini penghasilannya meningkat tajam hingga ratusan persen. Perubahan ini terlihat nyata dari kondisi rumahnya; lantai yang dulunya beralaskan tanah kini telah berganti menjadi keramik bersih.

Menuju Kemandirian Berkelanjutan

Saat ini, PHE ONWJ mendampingi sekitar 15 penyandang disabilitas (tunadaksa dan disabilitas mental) dalam kelompok Hasna Mandiri. Program ini terus berinovasi dengan membekali mereka keterampilan ramah lingkungan, seperti pembuatan kerajinan bambu dan pengolahan limbah kertas.

Melalui langkah integratif ini, Engkus Kusnadi telah membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk berdiri tegak. Dari seorang mantan gurandil yang bertaruh nyawa, kini ia menjadi ketua kelompok yang membawa harapan bagi sesama rekan difabel untuk menatap masa depan dengan penuh percaya diri. (BY/I-1)


Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |