Algoritma tidak Pernah Netral

2 weeks ago 7
Algoritma tidak Pernah Netral Nurhadidjah Salma(DOK PRIBADI)

MEDIA sosial sering dianggap sebagai ruang yang demokratis. Siapa pun dapat membuat konten, menyampaikan pendapat, bahkan membangun audiensnya sendiri tanpa harus bergantung pada media arus utama.

Sekilas, internet tampak berhasil menghapus batas antara produsen dan konsumen informasi. Namun, benarkah setiap orang memiliki peluang yang sama untuk didengar?

Di balik linimasa yang terasa personal, algoritma bekerja menentukan informasi apa yang muncul, berita mana yang lebih sering direkomendasikan, hingga suara siapa yang lebih mudah menjangkau publik. Akibatnya, apa yang kita anggap sebagai pilihan pribadi sering kali merupakan hasil dari proses seleksi yang tidak sepenuhnya kita sadari.

Algoritma memang dirancang untuk menyajikan konten yang dianggap paling relevan, tetapi relevan bagi siapa dan berdasarkan kepentingan apa menjadi pertanyaan yang layak diajukan.

Internet Bukan Berarti Demokrasi Informasi

Optimisme bahwa internet akan menghapus dominasi media ternyata tidak sepenuhnya terwujud. Edwin Baker dalam Media Concentration and Democracy: Why Ownership Matters mengingatkan bahwa internet bukan solusi otomatis atas persoalan keberagaman informasi.

Meskipun akses terhadap informasi menjadi lebih mudah, sejumlah kecil perusahaan media tetap menguasai media yang paling banyak dibaca,
ditonton, dan didengar masyarakat. Konglomerasi media juga masih mengendalikan sumber daya finansial yang memungkinkan mereka memproduksi berita dalam skala besar, termasuk membiayai distribusi konten agar menjangkau lebih banyak audiens.

Dalam situasi tersebut, algoritma tidak bekerja di ruang yang kosong. Ia mengelola informasi yang telah diproduksi oleh ekosistem media dengan tingkat sumber daya yang tidak seimbang.

Konten dari media besar yang memiliki modal, jaringan distribusi, dan kekuatan merek lebih mudah memperoleh perhatian publik jika dibandingkan dengan media independen yang memiliki keterbatasan sumber daya. Dengan demikian, dominasi informasi tidak hanya ditentukan oleh teknologi, tetapi juga oleh struktur kepemilikan media.

Ketika Perhatian Menjadi Komoditas

Gillian Doyle menjelaskan bahwa media beroperasi sebagai industri yang bergantung
pada perhatian audiens. Di era digital, perhatian tersebut diterjemahkan menjadi klik,
waktu menonton, dan interaksi yang bernilai ekonomi.

Algoritma kemudian memperkuat logika tersebut dengan terus merekomendasikan konten yang berpotensimempertahankan keterlibatan pengguna. Akibatnya, informasi yang paling sering
muncul belum tentu merupakan informasi yang paling penting bagi publik, melainkan yang paling mampu menarik perhatian.

Noam Chomsky juga mengingatkan bahwa pembentukan opini publik tidak selalu berlangsung melalui penyensoran secara langsung. Persetujuan publik dapat dibangun melalui proses seleksi informasi yang terus-menerus direproduksi sehingga cara masyarakat memahami suatu isu perlahan dibentuk oleh narasi yang paling dominan.

Menjadi Pengguna yang Lebih Kritis

Di tengah derasnya arus informasi digital, literasi  media tidak cukup dimaknai sebagai kemampuan membedakan fakta dan hoaks. Masyarakat juga perlu memahami bagaimana algoritma bekerja, siapa yang memproduksi informasi, serta kepentingan ekonomi yang memengaruhi distribusinya.

Dengan membaca dari berbagai sumber, membandingkan sudut pandang, dan tidak bergantung pada satu platform atau satu media saja, kita dapat mengurangi risiko terjebak dalam ruang informasi yang sempit.

Pada akhirnya, algoritma memang tidak pernah benar-benar netral. Namun, yang lebih penting untuk disadari adalah bahwa algoritma bukan satu-satunya aktor yang membentuk cara kita memahami dunia. Di balik setiap rekomendasi konten terdapat struktur kepemilikan media, kepentingan ekonomi, dan logika bisnis yang turut menentukan informasi mana yang memperoleh panggung.

Karena itu, tantangan terbesar masyarakat digital hari ini bukan sekadar mengakses informasi, melainkan memahami siapa yang mengendalikan arus informasi tersebut dan bagaimana kita
dapat tetap menjadi pembaca yang kritis di tengah derasnya narasi yang terus diproduksi.

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |