Ancam Kesehatan Astronaut, NASA Petakan Bahaya Debu Beracun di Mars

6 days ago 2
Ancam Kesehatan Astronaut, NASA Petakan Bahaya Debu Beracun di Mars Debu dan batuan di Mars seperti yang terlihat oleh rover Perseverance milik NASA.(NASA/JPL-Caltech/ASU)

MENGIRIM manusia ke Mars bukan sekadar urusan mendaratkan kaki, melainkan juga memastikan keselamatan astronaut dari debu planet merah yang beracun. Guna mengatasi ancaman tersebut, NASA membentuk Martian Dust Limit Working Group untuk meneliti bahaya toksikologi debu Mars bagi kru misi di masa depan.

Tujuan utama kelompok kerja ini adalah menetapkan batas paparan yang aman bagi manusia dengan mengumpulkan pandangan ahli terkait toksikologi, jalur paparan, dan strategi mitigasi.

Laporan kelompok kerja tersebut menegaskan standar awal debu Mars "harus menyeimbangkan sifat konservatif dengan kelayakan operasional sambil mengakomodasi ketidakpastian arsitektural dan ilmiah." Selain itu, standar tersebut harus ditinjau secara berkala seiring tersedianya data baru.

Beda Debu Bulan dan Mars

Brian Hynek, profesor di University of Colorado, Boulder sekaligus anggota panel, menjelaskan bahwa bahaya di Bulan dan Mars memiliki karakteristik berbeda.

"Bulan lebih buruk dalam beberapa hal dan Mars lebih buruk dalam hal lain," ujar Hynek.

Berbeda dengan debu Bulan yang tajam dan bersudut, partikel debu Mars cenderung lebih bulat. Namun, debu Mars mengandung berbagai bahan kimia dan mineral berbahaya seperti perklorat, silika, serta logam berat yang bersifat karsinogenik.

Hynek juga menyoroti potensi bahaya lain dari rencana bercocok tanam di Mars. "Tanah Mars penuh dengan bahan kimia berbahaya ini. Jadi para astronaut mungkin mendapatkan lebih banyak paparan dari apa yang mereka tanam di Mars daripada debu yang terhirup di udara," kata Hynek.

Pencegahan Jadi Strategi Utama

Pakar debu Bulan dari William and Mary, Joel Levine, menyambut baik langkah NASA yang mulai memperhitungkan bahaya debu sejak dini berdasarkan pengalaman dari misi Apollo. Menurutnya, pengembalian sampel dari Mars akan sangat membantu untuk menganalisis komposisi kimianya.

Sementara itu, Shaunna Morrison, profesor di Rutgers University yang juga menjadi anggota panel, menekankan bahwa debu Mars merupakan masalah nyata bagi kesehatan dan rekayasa teknik. Namun, masalah ini tetap dapat diatasi jika ditangani sejak awal perencanaan desain.

Kekhawatiran utama muncul karena astronaut akan tinggal di habitat tertutup dalam waktu lama dan berulang kali membawa debu dari luar melalui pakaian antariksa. Dalam lingkungan berkelembapan rendah, partikel halus mudah berterbangan dan berisiko terhirup.

"Strategi terbaik adalah pencegahan terlebih dahulu. Jaga agar debu sebanyak mungkin tetap berada di luar habitat, bersihkan dengan cepat jika masuk, pantau partikel di udara, dan rancang sistem sehingga kru tidak bergantung pada tindakan medis setelah terpapar," saran Morrison. (space/Z-2)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |