ilustrasi kekuatan militer AS.(Antara)
WAKIL Presiden Amerika Serikat JD Vance mengatakan pihaknya akan menggunakan sarana militer, ekonomi, dan diplomatik untuk menyelesaikan konflik dengan Iran. Menanggapi pertanyaan mengenai hambatan dalam negosiasi dengan Iran dalam wawancaranya dengan Fox News, Rabu (5/8), Vance menyebut dua faktor utama: “Pertama, Iran adalah pihak yang sangat sulit untuk diajak bekerja sama. Kedua, mereka memiliki sistem yang terpecah,” katanya.
Vance menyampaikan bahwa ada pihak-pihak dalam sistem Iran yang ingin perang segera berakhir, tetapi ada juga kelompok radikal yang ingin konflik terus berlanjut. “Tugas kami adalah menyikapi situasi tersebut dan mencapai hasil terbaik bagi rakyat Amerika serta Presiden Amerika Serikat,” ucapnya.
Vance berharap konflik pada akhirnya dapat diselesaikan, meski mengakui prosesnya tidak akan mudah. “Prosesnya akan rumit dan membutuhkan waktu, tetapi pada akhirnya kita akan sampai ke tujuan,” katanya, seraya menambahkan bahwa harga minyak diperkirakan akan turun dan tetap rendah.
“Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir, dan Amerika Serikat akan berada pada posisi yang lebih kuat,” lanjutnya.
“Namun kami akan mengerahkan seluruh instrumen yang kami miliki, baik militer, ekonomi, dan diplomatik—untuk memastikan konflik ini berakhir dengan penyelesaian yang tepat,” kata Vance.
Pernyataan tersebut disampaikan Vance di tengah meningkatnya ketegangan di sekitar Selat Hormuz setelah serangkaian konfrontasi militer antara Amerika Serikat dan Iran.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengatakan dia lebih memilih mencapai kesepakatan dengan Iran daripada menggunakan kekuatan militer. Namun, dia menegaskan bahwa opsi militer tetap terbuka apabila upaya diplomasi gagal. “Saya lebih memilih membuat kesepakatan karena saya tidak ingin membunuh orang,” kata Trump dalam sebuah acara di Las Vegas.
Adapun pada 18 Juni, Washington dan Teheran menandatangani sebuah perjanjian kerangka serta memulai perundingan menuju kesepakatan final. Namun, pembicaraan kemudian terhenti akibat perbedaan pandangan mengenai jaminan keamanan dan kebebasan navigasi di Selat Hormuz.
Bulan lalu, ketegangan kembali meningkat ketika Amerika Serikat melancarkan serangan di wilayah Iran. Sebagai balasan, Teheran menyerang apa yang disebutnya sebagai fasilitas dan peralatan militer AS di sejumlah negara Arab, terutama Yordania, Bahrain, dan Kuwait. (Ant/P-3)
















































