Astronom Amati Detik-Detik Kematian Bintang Masif dari Kilatan X-Ray Pertama

6 days ago 2
Astronom Amati Detik-Detik Kematian Bintang Masif dari Kilatan X-Ray Pertama Gambar galaksi yang berjarak 500 juta tahun cahaya yang ditangkap oleh Dark Energy Camera (DECam), yang dipasang pada Teleskop 4 meter NSF Víctor M. Blanco di Chili, diambil pada 9 Maret 2026 (kiri); dan gambar galaksi yang sekarang berisi supernova SN. (CTIO/NOIRLab/DOE/NSF/AURA Pengolahan Gambar: D. de Martin & M. Zamani (NSF NOIRLab))

PARA astronom berhasil mengabadikan momen kematian sebuah bintang masif sejak kilatan sinar-X pertamanya yang samar. Penemuan ini memperlihatkan ledakan tidak biasa yang diyakini menjadi jembatan pemisah antara supernova biasa dan ledakan ekstrem penghasil semburan sinar gamma.

Peristiwa ini bermula pada Maret 2026 saat wahana antariksa Einstein Probe milik Tiongkok mendeteksi kilatan sinar-X singkat dari galaksi yang berjarak sekitar 500 juta tahun cahaya. Pengamatan lanjutan mengidentifikasi sumber tersebut sebagai supernova tipe Ic bergaris lebar (broad-lined Type Ic supernova), yang diberi nama SN 2026gzf.

Ledakan jenis ini umumnya terjadi ketika bintang raksasa yang telah kehilangan lapisan luar hidrogen dan heliumnya mengalami runtuhan inti. Peristiwa ini kerap dikaitkan dengan semburan pancaran yang melaju mendekati kecepatan cahaya dan terkadang menghasilkan semburan sinar gamma yang sangat terang. Namun, SN 2026gzf tidak menghasilkan keduanya.

Sinyal sinar-X awal tersebut diduga merupakan shock breakout, yakni momen ketika gelombang ledakan dari runtuhan bintang mencapai permukaan dan melepaskan radiasi pertamanya. Menurut tim peneliti, kilatan ini menjadi shock breakout tersamar yang pernah dihubungkan dengan supernova tipe Ic bergaris lebar.

Karena fenomena shock breakout biasanya hanya berlangsung dalam hitungan detik hingga jam, para astronom sangat jarang berhasil mendeteksinya. Dalam kasus ini, pengamatan cepat dari jaringan teleskop luar angkasa dan darat memungkinkan para peneliti melacak supernova tersebut di berbagai panjang gelombang.

"Pengamatan kami memungkinkan kami untuk mempelajari fisika dari tiga bagian ledakan ini: shock breakout sinar-X, supernova yang menyertainya, dan interaksi supernova dengan material yang sebelumnya dilontarkan oleh bintang yang mati tersebut," kata Jillian Rastinejad, yang memimpin salah satu studi tentang peristiwa ini. "Dengan informasi ini, kami dapat memetakan struktur material di sekitar bintang dan memahami pola hidup penuh gejolak dari bintang tersebut sebelum ia runtuh."

Hasil pengamatan menunjukkan bahwa induk ledakan tersebut adalah bintang Wolf-Rayet yang awalnya bermassa sekitar 20 kali lipat dari massa matahari. Sebelum meledak, bintang ini telah melepaskan hidrogen dan heliumnya, meninggalkan inti yang sebagian besar terdiri dari karbon dan oksigen.

Para peneliti juga menemukan bukti adanya beberapa lapisan material yang mengelilingi bintang. Lapisan tersebut kemungkinan dilontarkan selama fase pelepasan massa yang intens sebelum ledakan terjadi.

"Ke depannya, saya sangat senang dapat mengamati lebih banyak peristiwa shock breakout secara mendetail untuk menguji apakah semua bintang yang terkelupas memiliki 'pola hidup' serupa sebelum runtuh dan perbedaan apa, jika ada, yang dapat kita lihat," ujar Gokul Srinivasaragavan, anggota tim Rastinejad. (Space/Z-2)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |