Kepala BRIN Arif Satria(ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A)
BADAN Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menargetkan penguasaan sejumlah teknologi strategis yang diyakini akan menentukan daya saing Indonesia dalam dua hingga tiga dekade mendatang. Mulai dari semikonduktor, kecerdasan buatan (AI), genomik, teknologi kuantum, hingga nuklir dan antariksa menjadi fokus utama pengembangan riset nasional.
Hal itu disampaikan Kepala BRIN Arif Satria saat menyampaikan laporan dalam Pertemuan Presiden dengan 150 Periset BRIN di Istana Kepresidenan, Kamis (6/8). Menurutnya, penguasaan teknologi tersebut akan menentukan apakah Indonesia hanya menjadi pengguna atau mampu menjadi pemilik teknologi.
"BRIN akan fokus pada teknologi maju yang akan menentukan daya saing negara dalam dua hingga tiga dekade ke depan. Pertama adalah semikonduktor, agar Indonesia tidak bergantung pada chip asing. AI, untuk melipatgandakan produktivitas nasional. Genomics, agar kita mampu menghasilkan benih, obat, dan bioindustri sendiri. Teknologi kuantum, untuk keamanan dan komputasi masa depan," ujar Arif.
Selain empat bidang tersebut, BRIN juga terus mengembangkan teknologi nuklir dan antariksa sebagai penopang kedaulatan energi, kesehatan, pangan, hingga pengawasan wilayah. Menurut Arif, penguasaan teknologi-teknologi itu merupakan fondasi agar Indonesia memiliki kemandirian di masa depan.
Untuk mewujudkan target tersebut, BRIN telah menyusun Peta Jalan dan Agenda Riset Strategis Nasional 2026-2045 bersama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Dokumen itu disiapkan agar arah riset nasional selaras dengan RPJMN, mendukung implementasi Asta Cita, sekaligus mengakhiri pola kerja sektoral yang selama ini berjalan sendiri-sendiri.
Arif menjelaskan, BRIN juga telah membangun berbagai fasilitas riset strategis yang tersebar di berbagai daerah, mulai dari reaktor nuklir, observatorium terbesar di Asia Tenggara, stasiun bumi satelit, laboratorium genomik berstandar internasional, pusat komputasi berkinerja tinggi yang masuk jajaran 500 terbaik dunia, hingga fasilitas pengujian pesawat, kereta api, roket, dan teknologi kemaritiman.
Di sisi pengembangan sumber daya manusia, BRIN menjalankan berbagai program seperti BRIN Goes to Nobel Prize, BRIN Goes to School, dan BRIN Goes to Kampus untuk memperkuat budaya riset, kolaborasi ilmiah, serta regenerasi talenta sains.
Sementara melalui BRIN Goes to Industry dan BRIN Goes to Society, lembaga tersebut berupaya mempercepat hilirisasi hasil riset sekaligus memperluas pemanfaatannya oleh masyarakat.
Dalam laporannya, Arif memaparkan beragam inovasi yang telah dikembangkan BRIN di berbagai sektor strategis. Di bidang energi, misalnya, BRIN mengembangkan teknologi Adsorbed Natural Gas (ANG) berbasis Metal Organic Framework (MOF) yang memungkinkan gas alam disimpan pada tekanan lebih rendah dibanding CNG konvensional.
BRIN bahkan telah membangun sister-lab bersama peraih Nobel Kimia 2021, Susumu Kitagawa, untuk mengembangkan teknologi tersebut. Berdasarkan perhitungan awal, inovasi itu berpotensi menghemat subsidi LPG hingga sekitar Rp26 triliun per tahun.
Di sektor kedirgantaraan, BRIN telah melisensikan pesawat N219 kepada PT Dirgantara Indonesia untuk diproduksi secara massal. Selain itu, satelit penginderaan jauh Neo-1 dijadwalkan meluncur pada awal 2027 guna mendukung kebutuhan data pertanian, kehutanan, kelautan, mitigasi bencana, hingga pengawasan maritim dengan efisiensi biaya sekitar 71,9% dibanding misi sejenis.
Inovasi juga dikembangkan di bidang pertahanan melalui pesawat nirawak Buna MALE Alap-Alap yang mampu terbang hingga enam jam dengan jangkauan 100 kilometer untuk mendukung pengawasan wilayah.
Sementara di sektor transportasi, BRIN mengembangkan kendaraan listrik, desain kapal yang telah digunakan instansi pemerintah, serta mesin flex-fuel yang dapat menggunakan bensin maupun campuran etanol E20 hingga E40.
Dukungan terhadap Program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga menjadi perhatian BRIN. Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah Food Guard, perangkat berbasis multi-sensor dan kecerdasan buatan yang dipasang pada ompreng untuk mendeteksi gas pembusukan makanan selama proses distribusi.
Di sektor kelautan, BRIN menghadirkan kapal nelayan listrik yang diperkirakan mampu memangkas biaya energi hingga 70 persen dibanding penggunaan bahan bakar minyak. Lembaga itu juga mengembangkan teknologi budidaya, penyimpanan, pengeringan, hingga pengolahan hasil perikanan agar nilai tambah dapat dinikmati hingga produk siap dipasarkan.
Pada bidang kesehatan, BRIN mengembangkan berbagai teknologi mulai dari vaksin tuberkulosis dan dengue, radiofarmaka, stem cell, hingga alat pengukur hemoglobin berbasis laser yang bekerja secara non-invasif, cepat, portabel, dan real time.
Arif juga memperkenalkan sepatu sekolah berbahan baku karet lokal dengan teknologi one piece injection molding yang diproduksi dengan harga di bawah Rp70 ribu. Untuk kebutuhan bernilai tambah tinggi, BRIN mengembangkan Smart Insole yang mampu membaca distribusi tekanan kaki untuk kepentingan rehabilitasi medis, olahraga, hingga keselamatan kerja.
Selain itu, BRIN memperkuat riset mineral kritis, teknologi nuklir, pengolahan air minum, perumahan modular, Giant Sea Wall, hingga pengelolaan sampah berbasis pirolisis yang telah diterapkan di puluhan lokasi di Indonesia.
Menutup laporannya, Arif menegaskan bahwa seluruh inovasi tersebut bukan sekadar menghasilkan produk riset, tetapi membangun kemampuan teknologi nasional di berbagai sektor strategis.
"Pesannya adalah bahwa Indonesia sedang membangun kapabilitas teknologi nasional untuk pangan, energi, kesehatan, air, pertahanan dan keamanan, lingkungan, industri, dan kualitas sumber daya manusia," kata Arif.
Ia menambahkan, tantangan berikutnya adalah memastikan seluruh kemampuan tersebut dapat dimanfaatkan pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat. Karena itu, BRIN juga memperkuat fungsi hilirisasi dan pemasaran agar hasil riset nasional mampu diterima pasar serta memberikan dampak nyata bagi pembangunan menuju Indonesia Emas 2045. (Mir)
















































