Tim SAR tunda pencarian korban KM Virgo Transport 8(Doc Tim SAR)
RENCANA operasi pencarian dan penyelamatan (SAR) bawah air (under water) terhadap 129 penumpang korban tenggelamnya kapal KM Virgo Transport 8 di perairan Masalembo, Laut Jawa, Senin (14/9) tertunda akibat kondisi cuaca buruk.
Kencangnya arus laut menyebabkan kapal yang terbalik terus bergeser hingga 1,6 nautical mile dari lokasi awal.
Hal ini dikemukakan Kepala Badan SAR Nasional, Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii dalam keterangan persnya, Senin (14/9) malam di posko Pelabuhan Trisakti Banjarmasin.
Konferensi pers dipimpin Wakil Menteri Perhubungan, Suntana dan didampingi Gubernur Kalimantan Selatan Muhidin, dan Kapolda Kalsel Irjen Rosyanto Yudha Hermawan.
"Hingga hari kedua proses SAR oleh tim gabungan dari total 243 orang penumpang sesuai (POB), 114 korban berhasil ditemukan dan 86 orang selamat dan dua meninggal dunia dievakuasi ke Banjarmasin melalui Pelabuhan Trisakti," tuturnya.
Sebanyak 26 korban lainnya dievakuasi dalam rangkaian operasi penanganan awal dan masih ada 129 orang penumpang dalam pencarian.
Safii juga menjelaskan bahwa operasi pencarian bawah air (underwater operation) yang rencananya melibatkan Kopaska TNI AL, tim penyelam khusus TNI AL, dan Basarnas terpaksa ditunda akibat kondisi cuaca ekstrem.
Disamping cuaca, terjadinya pergeseran posisi titik letak (datum) kapal KM Virgo Transport 8 sejauh 1,6 nautical mile dari lokasi awal dalam keadaan terbalik juga menjadi kendala operasi SAR di lapangan.
“Posisi kapal yang bergeser artinya bahwa masih ada sekat-sekat atau ruang-ruang kosong di dalam kapal, sehingga memungkinkan kapal ini masih bisa bergeser melayang,” ungkap Syafii.
Sementara upaya menembus ruang udara (air pocket) di dalam kapal berisiko tinggi bagi keselamatan penyelam akibat potensi perubahan tekanan udara yang drastis secara mendadak. Saat ini, Basarnas bersama TNI AL sedang mematangkan beberapa opsi penanganan teknis.
Mulai dari mengkaji kemungkinan membalikkan posisi kapal yang tengkurap, mengupayakan kapal agar tenggelam penuh dan diam di dasar laut yang relatif dangkal (kedalaman sekitar 30 meter) dan merencanakan penarikan bangkai kapal ke area perairan yang lebih dangkal. (DY)

















































