MediaMIND 2026(MIND ID)
PT Mineral Industri Indonesia (MIND ID) terus mendorong kampanye mengenai praktik pertambangan berkelanjutan. Komitmen tersebut juga menjadi salah satu isu yang diangkat dalam kompetisi jurnalistik MediaMIND 2026. Tahun ini, MediaMIND 2026 mengusung tema Dari Bumi untuk Kedaulatan Negeri. Melalui kompetisi tersebut, MIND ID ingin membuka ruang pembahasan mengenai kontribusi industri pertambangan, termasuk upaya penerapan prinsip keberlanjutan dalam kegiatan usaha.
Corporate Secretary MIND ID, Pria Utama, mengatakan industri pertambangan tidak seharusnya dipandang semata-mata sebagai kegiatan yang memberikan dampak negatif terhadap lingkungan. Menurutnya, praktik pertambangan perlu dijalankan dengan memperhatikan manfaat ekonomi sekaligus tanggung jawab terhadap lingkungan dan masyarakat.
"Usaha tambang yang kami lakukan itu bermanfaat. Kami tidak sekadar menambang, terus kami tinggalkan, lalu merusak ekosistem lingkungan di sekitarnya. Kami punya ESG, kami memahami bahwa kami melakukan pertambangan yang kita bilang hijau," ujar Pria dalam acara Sosialisasi MediaMIND 2026 di Energy Building, Jakarta Pusat, Senin (14/9).
Karena itu, sejumlah subtema yang diangkat dalam MediaMIND 2026 turut membahas pertambangan hijau, penerapan environmental, social, and governance (ESG), serta berbagai isu keberlanjutan lainnya.
Penerapan praktik pertambangan berkelanjutan juga disoroti oleh PT Vale Indonesia Tbk, salah satu perusahaan yang tergabung dalam MIND ID. Head of Strategy and Business Development PT Vale Indonesia Tbk, Mateus Sigit Harisulistya, mengatakan aspek keberlanjutan kini menjadi bagian dari daya saing industri.
“Sustainability merupakan bagian dari competitiveness,” kata Sigit.
Ia mencontohkan pengolahan bijih nikel menggunakan teknologi high pressure acid leach (HPAL). Menurutnya, meskipun teknologi tersebut menghasilkan emisi yang lebih rendah dibandingkan sistem pirometalurgi, proses HPAL tetap menghasilkan residu atau tailing dalam jumlah yang signifikan. Karena itu, pengembangan fasilitas pengolahan tersebut perlu dilakukan dengan memperhatikan standar dan pengelolaan yang sesuai.
"Tapi dengan partner yang tepat, kemudian komitmen untuk membangun yang lebih baik, kita tekankan dengan partner kita bahwa HPAL yang kita bangun itu harus memenuhi standar internasional. Itu yang nanti akan dijalankan mulai dari fase engineering-nya sampai nanti kita membangun HPAL tersebut," jelasnya dalam kesempatan yang sama.
ESG Jadi Pertimbangan dalam Industri Baterai
Sementara itu, PT Industri Baterai Indonesia atau Indonesia Battery Corporation (IBC) menilai penerapan ESG merupakan kebutuhan penting dalam pengembangan industri baterai. Direktur Utama IBC, Aditya Farhan Arif, mengatakan perhatian terhadap aspek keberlanjutan menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi daya saing produk di pasar.
"Tanpa disuruh pasti kita akan concern sama ESG. Karena kalau tidak barangnya berpotensi tidak laku," ujar Aditya dalam kesempatan yang sama.
Menurutnya, peralihan dari kendaraan bermesin pembakaran internal atau internal combustion engine menuju kendaraan listrik (electric vehicle/EV) memang berpotensi mengurangi emisi karbon dioksida. Namun, pengurangan emisi tersebut perlu dilihat secara menyeluruh, termasuk dari sumber energi yang digunakan dalam proses produksi dan pengoperasian kendaraan listrik.
"Tapi dalam melihat total emisi ini, kita melihatnya dari hulu sampai ke hilir. Tidak hanya di satu segmen baterainya saja atau MHP (mixed hydroxide precipitate) saja, kita harus melihatnya dari hulu ke hilir. Karena framework yang digunakan adalah daur hidup atau life cycle assessment," papar Aditya.
Dalam upaya mengurangi emisi secara keseluruhan, IBC menerapkan bauran energi dalam pengembangan portofolio industrinya.
"Itulah mengapa IBC melakukan bauran energi pada portfolio-nya. Jadi di pabrik yang di Karawang, kita install 18 MW solar pv, kemudian nanti di pabrik material baterainya juga kami akan lakukan bauran dengan energi bersih. Itu supaya secara total nanti bisa meng-offset emisi secara keseluruhan," imbuhnya.
Selain penggunaan energi bersih, perusahaan juga mengembangkan upaya daur ulang atau recycling. Menurut Aditya, proses tersebut menjadi bagian dari strategi untuk mengurangi jejak emisi yang dihasilkan sepanjang rantai produksi.
"Ini menjadi upaya kami untuk bisa kompetitif di pasar-pasar yang sensitif ESG. Jadi masalah social, masalah governance, selain masalah environment, itu seharusnya tidak menjadi masalah karena kami bagian dari BUMN ini. Jadi aspek social dan governance itu menjadi bagian yang terintegrasi di dalamnya," pungkasnya.
Melalui penerapan prinsip ESG, industri pertambangan dan hilirisasi dinilai perlu melihat aspek keberlanjutan sebagai bagian dari strategi jangka panjang. Mulai dari proses pertambangan, pengolahan mineral, produksi material baterai, penggunaan energi, hingga pengelolaan produk setelah masa pakainya, seluruh tahapan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun industri yang lebih kompetitif sekaligus memperhatikan aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola.
MediaMIND 2026 pun menjadi salah satu ruang untuk memperluas pembahasan mengenai bagaimana industri pertambangan dapat berkembang dengan tetap mengedepankan prinsip keberlanjutan dalam mendukung perekonomian nasional. (E-3)

















































