Fase Pre-miopia Waktu Terbaik Intervensi Rabun Jauh pada Anak

5 hours ago 6
Fase Pre-miopia Waktu Terbaik Intervensi Rabun Jauh pada Anak Ilustrasi, pemeriksaan mata anak.(Dok. Magnific)

PERHUMPUNAN Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami) Cabang Jakarta menekankan bahwa fase pre-miopia merupakan periode krusial dan waktu terbaik untuk melakukan intervensi pada anak. Langkah ini penting guna mencegah perkembangan rabun jauh yang lebih parah di masa depan.

Ketua Perdami Jakarta, dr. Julie Dewi Barliana, menjelaskan bahwa pre-miopia adalah kondisi di mana ukuran refraksi mata anak mulai mendekati ambang miopia. Jika tidak ditangani, kondisi ini memiliki risiko tinggi berkembang menjadi rabun jauh atau miopia.

Dalam acara Meet The Expert 2026 di Jakarta, Minggu (12/7), dr. Julie mengungkapkan tren mengkhawatirkan di mana kasus miopia kini banyak ditemukan pada anak usia di bawah tujuh tahun. Ia memperingatkan bahwa semakin dini miopia muncul, maka progresivitasnya akan semakin cepat.

"Kalau progresivitas ini tidak kita tahan, maka risiko terjadinya komplikasi penglihatan di masa depan akan semakin besar," ujar dr. Julie dalam keterangan resminya, Senin (13/7).

Risiko Komplikasi Permanen

Tanpa intervensi yang tepat, miopia pada anak dapat berkembang menjadi high myopia hingga pathologic myopia. Kondisi ini berisiko memicu berbagai komplikasi serius, di antaranya:

  • Stafiloma posterior
  • Myopic maculopathy
  • Foveoschisis
  • Gangguan saraf optik

Deretan komplikasi tersebut berpotensi menurunkan kualitas penglihatan secara permanen jika tidak diantisipasi sejak dini.

Faktor Risiko dan Perubahan Gaya Hidup

Selain faktor genetik dan etnis Asia yang memiliki kecenderungan lebih tinggi, dr. Julie menyoroti perubahan pola hidup sebagai pemicu utama meningkatnya kasus miopia. Tingginya beban belajar membuat waktu bermain di luar ruangan berkurang, sementara aktivitas jarak dekat atau screen time melalui gawai semakin meningkat.

Senada dengan hal tersebut, Presiden Direktur EssilorLuxottica Indonesia, Dailami Aziz, menyatakan komitmennya untuk bekerja sama dengan Perdami dalam memperkuat edukasi deteksi dini. Ia menilai peningkatan penggunaan perangkat digital dan minimnya aktivitas luar ruang menjadi faktor pendorong percepatan miopia pada generasi muda.

Melalui kerja sama ini, diharapkan lebih banyak tenaga kesehatan mata yang menerapkan manajemen miopia berbasis bukti ilmiah (evidence-based). Langkah kolektif ini diharapkan mampu menekan risiko komplikasi penglihatan sekaligus menjaga kualitas hidup generasi muda Indonesia di masa depan. (Ant/H-3)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |