Ilustrasi--Sejumlah pengunjung melakukan melukat atau membersihkan diri secara jasmani dan rohani di Pura Tirta Empul Tampaksiring, Kabupaten Gianyar, Bali, Rabu (24/4/2024)(ANTARA/Dewa Ketut Sudiarta Wiguna)
RITUAL melukat di Bali kini tengah mengalami pergeseran makna dan fungsi di mata masyarakat luas. Tradisi yang berakar kuat pada ajaran Hindu Bali ini semakin diminati, terutama oleh generasi muda urban yang mencari pelarian dari tekanan hidup modern.
Fenomena ini sejalan dengan meningkatnya tren wellness tourism, ketikamelukat tidak lagi sekadar ritual keagamaan, tetapi menjadi sarana mencari ketenangan batin dan pengalaman spiritual yang mendalam.
Sosiolog dari IPB University, Dr. Ivanovich Agusta, menjelaskan bahwa melukat pada dasarnya adalah ritual penyucian diri secara sekala dan niskala (lahir dan batin) menggunakan air yang telah disucikan. Namun, ia mencatat adanya transformasi signifikan seiring perubahan gaya hidup masyarakat saat ini.
"Ritual yang pada mulanya bersifat religius kini menjadi ruang perjumpaan antara kebutuhan psikologis masyarakat modern, dinamika media sosial, dan industri pariwisata," ujar Ivanovich.
Pergeseran dari Konsumtif ke Holistik
Menurut Ivanovich, masyarakat urban saat ini hidup dalam ritme yang serba cepat, kompetitif, dan penuh tekanan. Hal ini memicu kebutuhan akan aktivitas yang mampu menghadirkan ketenangan sekaligus sarana refleksi diri. Jika sebelumnya pelepasan stres identik dengan aktivitas konsumtif seperti berbelanja, kini tren bergeser ke arah yang lebih holistik.
Wisatawan kontemporer tidak lagi hanya mencari keindahan visual destinasi, tetapi juga pengalaman personal yang transformatif. Melukat menawarkan suasana alam yang tenang, simbol penyucian, serta narasi tentang melepaskan beban masa lalu untuk memulai lembaran baru.
| Fokus Utama | Kewajiban religius & adat | Kesehatan mental & wellness |
| Motivasi | Penyucian spiritual Hindu | Refleksi diri & pelepasan stres |
| Sifat Pengalaman | Komunal & sakral | Personal, fleksibel, & universal |
Peran Media Sosial dan Fenomena Hyperreality
Daya tarik melukat juga dipengaruhi oleh cara generasi muda memaknai spiritualitas yang lebih cair dan dekat dengan alam. Ritual ini dinilai mampu menghadirkan ruang refleksi universal tanpa mengharuskan seseorang berpindah keyakinan. Namun, Ivanovich tidak menampik bahwa media sosial memegang peran krusial dalam mempopulerkan tren ini.
Paparan visual yang estetik dari unggahan selebriti atau influencer menciptakan social proof dan fenomena fear of missing out (FOMO). Ivanovich menyebut kondisi ini sebagai hyperreality, di mana citra visual ritual terkadang lebih dikenal luas dibandingkan makna sakral yang terkandung di dalamnya.
Meski demikian, ia menekankan bahwa motivasi awal yang sekadar mengikuti tren tidak selalu berakhir dangkal. "Seseorang bisa mengenal melukat melalui media sosial, datang karena tren, tetapi kemudian memperoleh pengalaman reflektif yang sungguh-sungguh," tambahnya.
Sebagai penutup, Ivanovich mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara pariwisata dan kesakralan tradisi. Kunci utamanya bukan pada pembatasan wisatawan, melainkan pada edukasi agar pendatang memahami makna ritual, menghormati tata cara adat, serta mengikuti arahan pemangku kepentingan lokal agar nilai spiritual melukat tetap terjaga di tengah arus modernisasi. (Z-1)
















































