FIFA Minta Maaf soal Rencana Privatisasi Piala Dunia tapi Infantino Tetap Didukung

6 days ago 2
FIFA Minta Maaf soal Rencana Privatisasi Piala Dunia tapi Infantino Tetap Didukung Presiden FIFA Gianni Infantino.(Anadolu Agency/Mustafa Yalçın )

FEDERASI Sepak Bola Internasional (FIFA) secara resmi menyampaikan permohonan maaf atas polemik yang dipicu oleh rencana pembukaan pengelolaan bisnis Piala Dunia kepada investasi swasta. Meski mengakui adanya kesalahan prosedural yang fatal, jajaran petinggi FIFA tetap menegaskan dukungan penuh mereka kepada Presiden FIFA Gianni Infantino yang kini tengah menghadapi tekanan hebat untuk menanggalkan jabatannya.

Keputusan tersebut diambil menyusul pertemuan krisis yang digelar jajaran pimpinan FIFA di Rabat, Maroko, pada Rabu (5/8) waktu setempat. Pertemuan darurat ini merupakan respons atas gelombang kritik masif terhadap proposal pembentukan FIFA Forward Enterprise (FFE), sebuah entitas komersial yang akhirnya diputuskan untuk dibatalkan.

Dukungan di Tengah Tekanan Mundur

Dalam pernyataan resmi pascapertemuan, Sekretaris Jenderal FIFA beserta anggota Dewan Manajemen FIFA memberikan pembelaan terhadap kepemimpinan Infantino. Mereka menegaskan bahwa pria asal Swiss tersebut masih memegang legitimasi kuat sebagai nakhoda organisasi sepak bola tertinggi dunia tersebut.

"Para peserta pertemuan menegaskan kembali dukungan penuh kepada Presiden FIFA Gianni Infantino sebagai satu-satunya pejabat yang dipilih oleh 211 asosiasi anggota FIFA," bunyi pernyataan resmi tersebut.

Kendati demikian, FIFA mengakui adanya kekeliruan dalam penyusunan proposal FFE. Organisasi tersebut menyadari bahwa proses tersebut seharusnya melibatkan pemangku kepentingan secara lebih luas dan tidak memberikan kesan mengesampingkan Dewan FIFA serta asosiasi anggota.

Permintaan maaf secara formal juga telah dikirimkan melalui surat terpisah kepada Dewan FIFA dan seluruh asosiasi anggota. FIFA berjanji akan melakukan perbaikan tata kelola secara menyeluruh agar insiden serupa tidak terulang di masa depan.

Valuasi Fantastis dan Penolakan Konfederasi

Kontroversi ini berakar dari gagasan Infantino untuk membentuk FFE sebagai anak usaha komersial baru. Entitas ini diproyeksikan menangani turnamen besar seperti Piala Dunia dan Piala Dunia Antarklub dengan valuasi mencapai US$20 miliar (sekitar Rp320 triliun).

Melalui skema investasi swasta, FIFA menargetkan penghimpunan dana segar hingga US$4,2 miliar. Jika disetujui, setiap asosiasi anggota dijanjikan menerima pembayaran satu kali sebesar US$20 juta (sekitar Rp320 miliar) pada awal 2027, serta lonjakan alokasi pendanaan periode 2027-2030.

Namun, tawaran finansial tersebut justru memicu reaksi keras. UEFA dan CONCACAF menjadi pihak yang paling vokal menentang rencana "privatisasi" bisnis kompetisi FIFA tersebut. Tekanan politik bahkan datang dari luar lapangan hijau, di mana tokoh seperti PM Inggris Andy Burnham dan PM Kanada Mark Carney secara terbuka menyatakan hilang kepercayaan terhadap kepemimpinan Infantino.

Nasib Proposal FFE

Menghadapi resistensi yang begitu kuat, Infantino akhirnya menarik proposal tersebut. FIFA memastikan bahwa proyek FFE kini sepenuhnya dihentikan dan tidak lagi masuk dalam pertimbangan organisasi.

"Evaluasi sekarang akan dilakukan dan laporannya akan disampaikan kepada Dewan FIFA pada pertemuan berikutnya yang telah dijadwalkan," tulis pernyataan FIFA lebih lanjut.

Situasi ini menjadi ujian terberat bagi Infantino setelah satu dekade memimpin. Padahal, posisinya sempat dianggap sangat kokoh pasca-kesuksesan penyelenggaraan Piala Dunia 2026 dengan format baru 48 peserta. Kini, masa depan kepemimpinannya menjadi tanda tanya besar seiring meningkatnya tuntutan reformasi di tubuh FIFA. (AFP/I-1)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |