Hari kebebasan pers FJPI Jambi gelar orasi perlindungan jurnalis.
REPUBLIKA.CO.ID, JAMBI, – Memperingati Hari Kebebasan Pers Sedunia, Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI) Provinsi Jambi menggelar orasi damai pada Minggu, menekankan pentingnya perlindungan bagi jurnalis di tengah kondisi kebebasan pers yang semakin merosot. Ketua FJPI Provinsi Jambi, Yusnaini Rany, menyatakan bahwa kondisi kebebasan pers semakin mencemaskan.
Menurut Rany, indeks kebebasan pers Indonesia terus merosot. Berdasarkan data Reporters Without Borders (RSF), peringkat Indonesia turun dari 108 pada 2023 menjadi 111 pada 2024, 127 pada 2025, dan 129 pada 2026 dari total 180 negara. Angka ini menunjukkan bahwa kondisi kebebasan pers semakin memburuk, mencerminkan realitas yang dihadapi para jurnalis, terutama jurnalis perempuan.
Studi Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Maret 2025 yang melibatkan 2.020 jurnalis di Indonesia mengungkapkan bahwa 75,1 persen jurnalis mengalami kekerasan, baik fisik maupun digital. Jurnalis perempuan menghadapi risiko ganda karena posisinya sebagai perempuan dan jurnalis. Data menunjukkan 85,7 persen dari 1.256 jurnalis perempuan pernah mengalami berbagai bentuk kekerasan. Selain itu, riset kolaboratif AJI dan PR2Media pada 2022 menyatakan 82,6 persen dari 852 jurnalis perempuan di 34 provinsi pernah mengalami kekerasan seksual.
Bentuk kekerasan yang dialami meliputi pelecehan daring, ancaman seksual, doxing, dan serangan terhadap reputasi pribadi. Hal ini berdampak serius pada keamanan, kesehatan mental, dan keberlanjutan karier mereka.
Dalam beberapa tahun terakhir, kebebasan pers semakin terbatasi dengan adanya sensor yang lebih samar dan akuntabilitas yang berkurang. FJPI Cabang Jambi menyerukan penghentian intervensi terhadap kerja jurnalis, revisi regulasi yang berpotensi mengkriminalisasi jurnalisme, dan perlindungan nyata bagi jurnalis perempuan. Kepada perusahaan media, FJPI Jambi meminta penerapan mekanisme pencegahan dan penanganan kekerasan terhadap jurnalis, termasuk kekerasan seksual di lingkungan kerja.
"Lindungi wartawan perempuan anda, baik di lapangan maupun di ruang redaksi," ujar Rany.
Konten ini diolah dengan bantuan AI.
sumber : antara

4 hours ago
1















































