Grand Launching Indonesian Center for Health Policy (I-CHIP) di Gedung Cendekia UMJ, Selasa (15/9).(istimewa)
UNIVERSITAS Muhammadiyah Jakarta (UMJ) menggelar Seminar Nasional sekaligus Grand Launching Indonesian Center for Health Policy (I-CHIP) di Gedung Cendekia UMJ, Selasa (15/9). Mengusung tema “Kedaulatan Kesehatan: Akselerasi Transdisiplin Menuju Kebijakan yang Berbasis dan Berkeadilan”, pusat studi baru ini diorientasikan untuk memperkuat perumusan kebijakan kesehatan yang berpijak pada riset ilmiah yang kuat.
Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunandi Sadikin yang hadir dalam kesempatan tersebut menekankan pentingnya peningkatan kualitas kesehatan masyarakat sebagai upaya memperpanjang usia harapan hidup. Hal tersebut selaras dengan arahan Presiden RI agar usia harapan hidup masyarakat Indonesia dapat mencapai kisaran 72 hingga 74 tahun.
Menurutnya, peningkatan kualitas kesehatan perlu dimulai dengan mendorong masyarakat untuk rutin memeriksakan kondisi kesehatan. “Pemeriksaan kesehatan secara rutin menjadi langkah penting untuk mendeteksi berbagai penyakit sejak dini,” ujarnya.
Upaya tersebut dilakukan pemerintah melalui Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang telah menjangkau sekitar 280 juta orang. Hasil pemeriksaan juga menunjukkan masih ditemukannya sejumlah masalah kesehatan, seperti hipertensi, diabetes, dan kolesterol.
Ia berharap UMJ dapat turut berperan dalam meningkatkan kesehatan masyarakat melalui pendidikan. Menurutnya, pendidikan yang baik dapat melahirkan lulusan kompeten yang mampu memberikan kontribusi bagi peningkatan derajat kesehatan masyarakat Indonesia.
Sementara itu, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI sekaligus BPH UMJ, Abdul Mu’ti, menekankan pentingnya kesehatan fisik dan mental dalam membangun generasi yang kuat. Ia berharap I-CHIP UMJ dapat berkontribusi dalam menciptakan budaya hidup sehat yang didukung lingkungan fisik, sosial, dan keluarga.
"Mudah-mudahan I-CHIP UMJ ini juga berkontribusi dalam bagaimana kita menciptakan budaya hidup yang sehat, membangun budaya hidup yang didukung oleh lingkungan fisik yang sehat, lingkungan sosial yang sehat, dan juga lingkungan keluarga yang sehat,” ujarnya.
Ia juga menjelaskan pentingnya sinergi dalam pelaksanaan program prioritas pemerintah, termasuk Program CKG yang menjadi salah satu upaya untuk mengetahui tingkat kesehatan anak. Menurutnya, sinergi tersebut diharapkan dapat mendukung terciptanya lingkungan sekolah yang sehat.
Dalam kesempatan tersebut, Abdul Mu’ti berharap keberadaan I-CHIP dapat memperkuat kajian ilmiah di bidang kesehatan. “Yang lebih penting lagi tentu dalam membangun masyarakat yang sehat dan generasi yang kuat,” tuturnya.
Rektor UMJ, Ma’mun Murod Al-Barbasy, juga berharap I-CHIP UMJ dapat menjadi wadah berkumpulnya akademisi di bidang kesehatan dan kebijakan publik dari UMJ maupun perguruan tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah.
Menurutnya, keberlangsungan pusat studi membutuhkan kreativitas, kolaborasi, dan silaturahmi dengan berbagai pihak.
“Yang tidak mudah itu adalah menjaga keberlangsungan dari pusat studi itu. Butuh kreativitas dari direktur-direktur atau ketuanya dan harus banyak silaturahmi dari pihak manapun,” ujarnya.
Ia menyampaikan, I-CHIP telah memiliki sejumlah program yang akan dikembangkan melalui kerja sama dengan berbagai pihak. Kerja sama tersebut diharapkan turut melibatkan perguruan tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah lainnya agar manfaat I-CHIP dapat dirasakan lebih luas.
Rektor UMJ menilai silaturahmi menjadi salah satu kunci dalam menjaga keberlangsungan pusat studi. “Kalau tidak banyak silaturahmi, percayalah maka pusat studi hanya tinggal pusat studi,” tuturnya.
Sementara itu, Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria menyampaikan pentingnya ekosistem riset dan inovasi yang melibatkan berbagai disiplin ilmu untuk mendukung kedaulatan pangan dan kesehatan nasional. Pendekatan transdisiplin dinilai dapat memperkuat kolaborasi antara akademisi, peneliti, pemerintah, dan berbagai pihak dalam menghasilkan kebijakan berbasis bukti.
Ia mengucapkan selamat atas terselenggaranya seminar nasional dan Grand Launching I-CHIP UMJ. “Saya ucapkan selamat atas grand launching I-CHIP, dapat berkembang menjadi ruang kolaborasi yang sifatnya transdisiplin yang memperkuat kebijakan kesehatan berbasis bukti,” ujarnya.
Setelah prosesi Grand Launching, Direktur I-CHIP UMJ, Muh. Arief Rosyid, menyampaikan bahwa I-CHIP UMJ diarahkan menjadi ruang interaksi dan kolaborasi bagi berbagai pemangku kepentingan di bidang kesehatan. Ia menyebut terdapat tiga persoalan yang menjadi perhatian I-CHIP UMJ, yakni kesenjangan antara kebijakan dan riset, penggunaan anggaran yang belum tepat sasaran, serta peran perguruan tinggi yang masih dianggap seperti menara gading.
“Pertama, gap kebijakan dan riset kita rasa I-CHIP UMJ ini bisa jadi katalisator. Yang kedua, banyak anggaran di kementerian dan di daerah yang sepertinya tidak tepat sasaran, dan yang ketiga bagaimana peran universitas yang masih seperti menara gading,” jelasnya.
(P-4)


















































