SBM ITB Dampingi 150 UMKM Hadapi Tantangan Bisnis

4 hours ago 6
SBM ITB Dampingi 150 UMKM Hadapi Tantangan Bisnis SBM ITB kembali membuka Coaching Clinic MSMEs 2026 Batch 16.(Dok.SBM ITB)

SEKOLAH Bisnis dan Manajemen Institut Teknologi Bandung (SBM ITB) kembali membuka Coaching Clinic MSMEs 2026 Batch 16 untuk mendampingi sekitar 150 pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Program yang bekerja sama dengan YGKT48 dan Akseleraksi itu memberikan pendampingan bisnis selama tiga hingga enam bulan.

Director of The Greater Hub SBM ITB Dina Dellyana mengatakan program tersebut dirancang untuk membantu UMKM menghadapi persoalan bisnis yang dihadapi sehari-hari, mulai dari operasional, perubahan pasar, hingga tekanan terhadap margin keuntungan.

"UMKM memiliki peran strategis dalam perekonomian nasional. Karena itu, untuk mendukung pertumbuhan Indonesia di masa depan, SBM memulai Klinik Bimbingan untuk UMKM yang telah berjalan selama delapan tahun berturut-turut," kata Dina, Selasa (15/9).

Menurut dia, Coaching Clinic tidak hanya memberikan pelatihan, tetapi juga pendampingan personal dan membangun jejaring antarpelaku usaha. Peserta diarahkan untuk mengidentifikasi persoalan bisnis yang terjadi di lapangan, kemudian menyusun tujuan yang konkret dan terukur bersama mentor.

Pendampingan dilakukan secara daring dan luring dengan mempertimbangkan fleksibilitas peserta dalam mengikuti perkembangan teknologi. Berbeda dengan pelatihan konvensional yang berpusat pada pembelajaran di kelas, program tersebut menempatkan peserta dalam hubungan langsung dengan mentor.

"Peserta dituntut aktif berdiskusi, mengevaluasi persoalan, serta menerapkan hasil pendampingan dalam kegiatan bisnis sehari-hari," ujarnya.

Dina menjelaskan, dalam periode lima minggu peserta diharapkan menentukan satu tujuan utama yang ingin dicapai. Mereka kemudian mendiskusikan tantangan bisnis dan membangun komunikasi rutin dengan mentor melalui sesi pelatihan mingguan minimal 30 menit.

Professor of Entrepreneurship sekaligus Head of Entrepreneurship and Technology Management Research Group SBM ITB Wawan Dhewanto mengatakan pola pendampingan dibuat fleksibel sesuai kebutuhan peserta. Pertemuan tatap muka berlangsung Senin hingga Rabu, sedangkan sesi daring digelar Kamis dan Jumat.

"Skema tersebut memungkinkan peserta tetap memperoleh pendampingan secara konsisten tanpa mengganggu aktivitas bisnis mereka. Pelatihan dirancang untuk fokus pada masalah bisnis praktis, bukan sekadar menyediakan ruang untuk berbagi frustrasi," kata Wawan.

Dalam Coaching Clinic MSMEs Batch 16, peserta juga diperkenalkan dengan metode GROW, yakni Goals (tujuan), Reality (realitas), Options (pilihan), dan Will (kemauan). Metode tersebut digunakan untuk membantu peserta menyederhanakan persoalan bisnis menjadi tujuan yang lebih jelas.

Peserta kemudian diajak memetakan kondisi aktual, mempertimbangkan pilihan solusi, dan menentukan tindakan yang dapat segera dijalankan. Dengan demikian, keberhasilan program tidak hanya bergantung pada kualitas saran mentor, tetapi juga kemampuan peserta menerapkan hasil pendampingan.

"Prinsip dasar Coaching Clinic adalah bahwa nasihat hanya berarti jika seseorang menindaklanjutinya. Nilai yang diperoleh peserta dari program ini terletak bukan semata pada kualitas bimbingan, melainkan pada apakah bimbingan tersebut diterjemahkan menjadi tindakan," ujar Wawan.

Program tersebut diharapkan membantu UMKM merespons kenaikan biaya operasional, perubahan perilaku konsumen, dan tekanan terhadap keuntungan. Selain pendampingan individu, peserta memperoleh kesempatan memperluas jaringan dan bertukar pengalaman dengan pelaku usaha lain. (E-2)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |