REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — PT Indonesia Infrastructure Finance (IIF) menilai percepatan investasi infrastruktur tidak hanya bergantung pada ketersediaan dana, tetapi juga pada disiplin penerapan prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola atau ESG. Aspek ini dinilai semakin menjadi faktor utama dalam menentukan kualitas dan keberlanjutan proyek.
Presiden Direktur dan CEO IIF Rizki Pribadi Hasan mengatakan, inisiatif pemerintah dan likuiditas pasar tetap penting, namun tanpa standar ESG yang kuat, investasi berisiko tidak berkelanjutan. Hal tersebut disampaikan Rizki dalam ajang APLMA Loan Market Conference Indonesia 2026 di Jakarta, pekan lalu. “Harga yang kompetitif dan disiplin ESG menjadi faktor yang tidak bisa ditawar,” kata Rizki dalam siaran pers, Senin (20/4/2026).
Rizki menjelaskan, IIF memposisikan diri sebagai lembaga keuangan non-bank yang memperkuat pembiayaan infrastruktur dengan pendekatan yang lebih komprehensif. Ia menegaskan peran IIF tidak menggantikan perbankan, tetapi melengkapi melalui skema pembiayaan yang lebih adaptif, termasuk untuk proyek yang memiliki dampak sosial dan lingkungan.
“Mandat kami adalah melengkapi, bukan bersaing dengan, industri perbankan dan pasar modal,” ujarnya.
Dalam 16 tahun terakhir, IIF bersama sejumlah institusi telah membiayai lebih dari 150 proyek infrastruktur. Seiring meningkatnya kebutuhan investasi berkelanjutan, pendekatan ESG menjadi landasan dalam setiap pembiayaan yang disalurkan.
Rizki menyebut penerapan ESG tidak hanya berkaitan dengan kepatuhan, tetapi juga berperan dalam menekan risiko jangka panjang. Standar lingkungan dan sosial yang ketat dinilai mampu meningkatkan kualitas proyek sekaligus menjaga keberlanjutan investasi.
“IIF telah menghabiskan lima tahun terakhir untuk menurunkan cost of funds sekaligus memperkuat standar lingkungan dan sosial dalam setiap proyek,” ujarnya.
Dari sisi pasar, likuiditas domestik dinilai masih cukup kuat untuk mendukung pembiayaan jangka panjang. Rasio pinjaman terhadap simpanan perbankan berada di kisaran 80 persen, sementara dana pensiun dan asuransi terus mencari instrumen investasi berjangka panjang yang stabil.
IIF juga mendorong inovasi pembiayaan berbasis ESG melalui berbagai instrumen pasar modal. Instrumen tersebut antara lain green perpetual notes, credit enhanced bonds, serta obligasi bertenor panjang yang mendukung proyek berkelanjutan.
IIF juga telah menandatangani pembiayaan proyek sektor kesehatan. Proyek ini mencerminkan fokus pada pembangunan infrastruktur sosial yang tidak hanya berdampak ekonomi, tetapi juga meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Integrasi ESG ke depan diperkirakan semakin menentukan arah investasi infrastruktur di Indonesia. Pendekatan ini tidak hanya menjaga keberlanjutan proyek, tetapi juga memperkuat daya tarik investasi di tengah dinamika global.

2 hours ago
2

















































