Mohammad Akraminia.(Al Jazeera)
IRAN memutuskan untuk menghentikan sementara serangan balasan terhadap Amerika Serikat (AS) setelah Presiden Donald Trump mengisyaratkan ada peluang negosiasi. Meredanya ketegangan dari kedua belah pihak ini memunculkan harapan baru bagi dimulai kembali proses diplomasi untuk mengakhiri konflik di kawasan tersebut.
Setelah 13 hari berturut-turut wilayah Iran menjadi sasaran serangan militer Amerika Serikat, situasi dalam dua hari terakhir dilaporkan mulai mereda. Berdasarkan laporan di lapangan, tidak ada serangan baru yang dilancarkan oleh kedua pihak selama periode tersebut.
Juru bicara militer Iran, Mohammad Akraminia, mengonfirmasi bahwa Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menghentikan operasi balasan. Langkah ini diambil menyusul berhentinya serangan udara maupun darat dari pihak Amerika Serikat.
"Selama dua malam terakhir Amerika menghentikan serangan mereka," ujar Akraminia sebagaimana dilansir dari AFP, Senin (27/7). "Karena strategi kami pada dasarnya adalah pembalasan, kami juga menghentikan operasi pembalasan," tambahnya.
Kondisi Teheran Mulai Kondusif
Meredanya konflik mulai dirasakan langsung oleh warga di ibu kota Teheran. Aktivitas masyarakat dilaporkan kembali berjalan normal dengan arus lalu lintas yang kembali padat dan pertokoan yang beroperasi penuh. Suara ledakan yang menghantui kota pada hari-hari sebelumnya kini tidak lagi terdengar.
Pernyataan pihak militer Iran ini muncul setelah Presiden Donald Trump memberikan sinyal bahwa Washington masih membuka pintu dialog dengan Teheran. Saat berbicara kepada awak media pada Jumat lalu, Trump mengaku belum memutuskan apakah akan melanjutkan operasi militer besar-besaran.
"Kami sedang berbicara dengan mereka sekarang. Saya rasa mereka semakin serius," ungkap Trump memberikan indikasi ada komunikasi di balik layar.
Diplomasi di Tengah Kesiagaan Militer
Sinyal positif juga datang dari Utusan Amerika Serikat untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Mike Waltz. Ia menyatakan bahwa pemerintahan Trump masih memberikan ruang bagi proses diplomasi untuk bekerja. Namun, Waltz memberikan catatan tegas bahwa militer AS tidak menurunkan kewaspadaan.
"Seluruh pasukan Amerika Serikat tetap berada dalam kondisi siaga penuh dan siap melanjutkan operasi militer apabila diperlukan," tegas Waltz.
Sebelum jeda serangan ini, Amerika Serikat sempat melancarkan rangkaian serangan selama hampir dua pekan ke berbagai wilayah Iran. Padahal, kedua negara sebelumnya menyepakati gencatan senjata dan menandatangani nota kesepahaman (MoU) untuk menghentikan konflik. Serangan tersebut dilaporkan mengenai sejumlah infrastruktur sipil, termasuk fasilitas air dan jembatan kereta api.
Sebagai bentuk perlawanan, Iran sebelumnya sempat membalas dengan menargetkan sejumlah pangkalan militer AS di Timur Tengah serta armada Washington yang beroperasi di Laut Oman. Kini, penghentian sementara aksi militer ini diharapkan menjadi momentum bagi Washington dan Teheran untuk mencari penyelesaian konflik yang lebih permanen. (I-2)
















































