Bus Transjakarta.(Dok. Antara)
CAKUPAN layanan transportasi publik yang belum merata menjadi salah satu tantangan dalam meningkatkan penggunaan angkutan umum di Jabodetabek. Kondisi tersebut berpotensi mempertahankan ketergantungan masyarakat terhadap kendaraan pribadi.
Direktur Asia Tenggara ITDP Indonesia Gonggomtua E Sitanggang mengatakan peningkatan mode share transportasi publik di Jabodetabek masih menghadapi tantangan karena cakupan layanan yang belum merata.
“Peningkatan mode share transportasi publik Jabodetabek masih menghadapi tantangan karena cakupan layanan yang belum merata,” kata Gonggomtua di Jakarta Selatan, Kamis (20/8).
Menurutnya, persoalan tersebut menjadi penting karena pengurangan emisi transportasi membutuhkan pergeseran dari kendaraan pribadi menuju transportasi publik.
Jakarta sendiri menargetkan mode share transportasi publik mencapai 55% pada 2045. Target itu tercantum dalam Perda DKI Jakarta Nomor 8 Tahun 2024 tentang RPJPD Provinsi DKI Jakarta 2025-2045.
Namun, target Jakarta tidak dapat berdiri sendiri. Wilayah Bodetabek juga perlu meningkatkan penggunaan transportasi publik karena perjalanan masyarakat berlangsung lintas wilayah.
Ketimpangan cakupan layanan membuat sebagian masyarakat yang tinggal di wilayah penyangga belum memiliki pilihan transportasi publik yang memadai.
Akibatnya, kendaraan pribadi masih menjadi moda penting dalam mobilitas menuju Jakarta.
“ITDP menilai perluasan layanan transportasi publik di seluruh Jabodetabek harus berjalan bersamaan dengan peningkatan konektivitas antarkota dan antarmoda,” bebernya. (H-3)













































