Kebakaran Savana Bromo Capai 80 Hektar

5 days ago 22
Kebakaran Savana Bromo Capai 80 Hektar Luas kebakaran savana di Gunung Bromo diprediksi mencapai 80 hektar.(Dok. Kemenhut)

KEBAKARAN hutan dan lahan (karhutla) yang melanda kawasan savana Gunung Bromo, Jawa Timur, dilaporkan terus meluas. Berdasarkan data terbaru hingga Rabu (5/8) malam, luas area yang terbakar diprediksi telah mencapai 80 hektare.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Probolinggo, Oemar Sjarief, mengungkapkan angka tersebut diperoleh berdasarkan informasi dari Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Ia memperingatkan bahwa luasan lahan yang terbakar masih berpotensi bertambah karena api belum sepenuhnya padam.

"Hingga Rabu malam terpantau sekitar 80 hektare savana yang sudah terbakar. Luasan tersebut bisa bertambah seiring belum juga padam dan masih adanya titik api," ujar Oemar di Probolinggo, Kamis (6/8).

Indikasi awal kebakaran ini terdeteksi sejak Selasa (4/8) melalui Sistem Pemantauan Kebakaran Hutan dan Lahan (SiPongi+) milik Kementerian Kehutanan. Data satelit NASA-MODIS menangkap titik panas (hotspot) dengan tingkat kepercayaan sedang, yang kemudian ditindaklanjuti dengan verifikasi lapangan (ground check) untuk memulai operasi pemadaman.

Upaya pemadaman di lapangan menghadapi kendala berat akibat medan yang curam dan perbukitan terjal. Selain itu, vegetasi yang kering seperti cemara gunung, pakis, dan semak belukar, ditambah angin kencang serta keterbatasan sumber air, membuat api cepat merambat. Petugas terpaksa menyuplai air secara bertahap menggunakan truk tangki ke titik-titik yang masih terjangkau.

Guna mempercepat penanganan, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah mengerahkan satu unit helikopter water bombing yang didatangkan langsung dari Palangka Raya. Dukungan udara ini diharapkan mampu menjangkau titik api di lereng-lereng yang sulit diakses oleh personel darat.

Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara, Bambang Setyo Antoko, menyatakan bahwa strategi pemadaman terus disesuaikan dengan kondisi lapangan yang dinamis.

"Personel kami fokus pada sektor-sektor dengan potensi rambatan tertinggi agar penyebaran api dapat ditekan secepat mungkin," jelasnya.

Operasi terpadu ini melibatkan personel gabungan dari BPBD Probolinggo, BPBD Jawa Timur, Perhutani, TNI/Polri, TNBTS, relawan, hingga masyarakat setempat. Kementerian Kehutanan juga menegaskan komitmennya untuk memperkuat sistem deteksi dini dan kolaborasi lintas instansi guna mencegah kerusakan ekologis yang lebih luas di kawasan konservasi tersebut. (Ant/Z-10)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |