Kebijakan Pangan Berbasis Sains Didorong terkait Pangan Olahan

1 week ago 6
Kebijakan Pangan Berbasis Sains Didorong terkait Pangan Olahan Kepala BPOM Taruna Ikrar.(MI)

PERDEBATAN mengenai ultra-processed food (UPF) kini menjadi sorotan utama di berbagai negara, termasuk Indonesia. Menanggapi beragam persepsi terhadap pangan olahan, Perhimpunan Ahli Teknologi Pangan Indonesia (PATPI) menegaskan pentingnya kebijakan pangan yang berpijak pada bukti ilmiah.

Ketua Umum PATPI Giyatmi menekankan bahwa ilmu pengetahuan harus menjadi landasan utama dalam penyusunan kebijakan pangan. Ia mengingatkan agar perdebatan tidak hanya didasarkan pada persepsi atau tren global semata.

"Indonesia membutuhkan kebijakan pangan yang dibangun di atas bukti ilmiah agar mampu menjawab tantangan gizi, keamanan, dan ketahanan pangan, sekaligus mendorong inovasi industri nasional. Teknologi pangan bukan masalah, melainkan bagian dari solusi," tegas Giyatmi dalam Seminar Nasional bertajuk Membangun Peradaban Teknologi Pangan untuk Future and Healthy Food di Jakarta, Selasa (14/7/2026).

Senada dengan hal tersebut, Dirjen Kesehatan Primer dan Komunitas Kementerian Kesehatan Maria Endang Sumiwi memaparkan arah kebijakan menuju Indonesia Emas 2045. Fokus utamanya mencakup pengembangan Future Food dan Healthy Food, serta meluruskan miskonsepsi terkait UPF melalui penguatan teknologi pangan.

Regulasi Adaptif dan Analisis Risiko

Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Taruna Ikrar menyoroti perlu regulasi yang adaptif terhadap perkembangan iptek. BPOM menekankan penguatan sistem pengawasan berbasis analisis risiko (scientific risk assessment), kebijakan pelabelan, dan fortifikasi untuk menjamin mutu serta nilai gizi pangan olahan.

Diskusi para ahli itu memperkaya pembahasan mengenai reformulasi produk dan relevansi klasifikasi UPF dalam konteks lokal Indonesia.

10 Komitmen Deklarasi Pangan Masa Depan & Sehat:

  1. Menempatkan sains sebagai fondasi utama kebijakan pangan dan gizi.
  2. Mengembangkan sistem pangan aman, bergizi, terjangkau, dan berkelanjutan.
  3. Mengakui teknologi pangan sebagai solusi ketahanan dan kesehatan masyarakat.
  4. Mendorong inovasi bertanggung jawab melalui reformulasi dan sumber daya lokal.
  5. Membangun literasi pangan masyarakat berdasarkan bukti ilmiah yang objektif.
  6. Mengembangkan regulasi berbasis scientific risk assessment.
  7. Mendorong kolaborasi lintas sektor (pemerintah, akademisi, industri, media).
  8. Menghargai keberagaman sumber daya hayati sebagai modal kedaulatan pangan.
  9. Mendukung transformasi sistem pangan yang adaptif terhadap tantangan global.
  10. Berkomitmen membangun Peradaban Teknologi Pangan untuk kesejahteraan bangsa.

Tindak Lanjut Strategis

Sebagai langkah konkret, seminar ini menghasilkan Policy Brief PATPI 2026 tentang Future and Healthy Food serta Posisi Ilmiah PATPI mengenai Ultra-Processed Food (UPF). Dokumen ini diproyeksikan menjadi rujukan strategis bagi seluruh pemangku kepentingan dalam memperkuat kedaulatan pangan menuju Indonesia Emas 2045. (RO/I-2)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |