Penanaman padi di lahan rawa lebak Kalsel.(Dok. MI)
PARA petani di Kalimantan Selatan (Kalsel) mulai memanfaatkan kawasan lahan rawa lebak yang surut akibat kemarau panjang untuk bercocok tanam. Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kalsel menargetkan penanaman padi di lahan rawa lebak seluas 15 ribu hektare guna menjaga stabilitas produksi.
"Kemarau panjang ini memang berpengaruh pada sebagian lahan pertanian yang mengalami kekeringan, namun kita memiliki lahan rawa lebak yang saat ini mulai memasuki musim tanam," ungkap Kepala DPKP Kalsel, Syamsir Rahman, Kamis (6/8). Ia menambahkan bahwa potensi lahan rawa lebak di wilayah tersebut sangat besar dan tersebar di sejumlah daerah strategis.
Syamsir memaparkan bahwa saat ini terdapat sekitar 6.000 hektare tanaman padi di beberapa wilayah yang terdampak kekeringan dan terancam gagal panen. Meski demikian, sebagian lahan lainnya telah memasuki masa panen raya. Untuk memitigasi dampak kekeringan, pemerintah daerah mendorong optimalisasi lahan rawa.
"Khusus untuk lahan rawa lebak yang surut akibat kemarau kini mulai ditanam, salah satunya di Kabupaten Hulu Sungai Utara dengan luas kita perkirakan seluas 15 ribu hektare," jelas Syamsir.
Ketahanan Pangan dan Target Produksi
Pemanfaatan lahan rawa lebak ini menjadi kunci agar cadangan pangan Kalsel tetap aman. Sebagai lumbung pangan nasional, khususnya di regional Kalimantan, Kalsel mencatatkan angka produksi padi yang signifikan. Pada tahun 2025, produksi padi mencapai 1,179 juta ton.
"Konsumsi Kalsel setara 600 ribu ton padi, sehingga kita mengalami surplus produksi. Tahun 2026 target produksi kita sebanyak 1,3 juta ton atau naik 15 persen," kata Syamsir. Dengan capaian tersebut, ia memastikan stok pangan di Kalsel dalam kondisi aman, baik yang tersimpan di gudang Bulog maupun di lumbung-lumbung petani.
Diversifikasi Tanaman Palawija
Selain padi, musim kemarau juga dimanfaatkan petani untuk menanam komoditas palawija di lahan rawa lebak. Petani di daerah Nagara, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, terpantau mulai menanam ubi negara, melon, hingga semangka.
Namun, Syamsir mengingatkan agar petani menunda penanaman komoditas yang membutuhkan banyak air, seperti jagung. Hal ini dikarenakan sumber air yang mulai mengering serta kondisi sungai yang cenderung menjadi masam, yang justru berisiko merusak tanaman jika dipaksakan. (H-3)
















































