Kisah Inspiratif Awardee LPDP: Kembali ke Tanah Air Demi Bangun Negeri

9 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Beasiswa yang diberikan oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) kerap dipandang oleh anak bangsa sebagai kesempatan untuk menempuh pendidikan tinggi hingga ke negara lain tanpa memikirkan biaya.

Namun, sebagai lembaga beasiswa yang menggunakan uang negara, LPDP mewajibkan penerima untuk memberikan manfaat kembali untuk masyarakat luas menjadi kewajiban yang diemban para penerima atau awardee beasiswa.

Oleh karena itu, siapapun awardee LPDP yang berkuliah di luar negeri, tetap diwajibkan kembali ke Tanah Air untuk melakukan pengabdian. Adapun, hitungan pengabdian disesuaikan dengan masa studi. Hal ini diharuskan karena dana yang dikelola LPDP adalah dana dari pajak masyarakat. Dengan dana ini, pemerintah sebenarnya berharap penerima LPDP dapat membangun bangsa, salah satunya dengan riset, penciptaan lapangan kerja dan kontribusi lainnya.

Berikut ini sejumlah kisah penerima atau awardee LPDP. Mereka yang kembali ke Tanah Air ternyata banyak yang mencetak kontribusi berharga.

Salah satu awardee LPDP tahun 2019, Handika Surbakti mengatakan sejak awal dirinya melihat program ini tidak hanya sebagai pembiayaan pendidikan, tetapi juga sebagai sarana meningkatkan kapasitas diri sekaligus membangun jejaring yang luas.

Berasal dari Medan, Handika kemudian melanjutkan studi S2 di Universitas Indonesia dengan fokus pada ekonomi dan keuangan syariah, khususnya riset terkait financial technology (fintech).

"Sebagai orang yang aktif di dunia kepemudaan, pengen aja mendalami keilmuan ini, tapi yang kekinian. Akhirnya risetnya adalah ke financial technology gitu ya. Jadi kali itu pengen ningkatin kapasitas yang kedua adalah bangun jejaring," ujar Handika dalam sharing session bersama Mata Garuda, Rabu (4/3/2026) malam.

Handika menilai, LPDP memberikan dukungan yang sangat komprehensif dari pembiayaan hingga berbagai fasilitas penunjang akademik. Menurutnya, dukungan tersebut menjadi modal penting bagi penerima beasiswa untuk berkembang secara akademik sekaligus membangun koneksi profesional.

"Saya lihat karena itu LPDP adalah benar-benar support kita untuk bisa studi dengan baik, dengan berbagai macam dukungan yang diberikan. Dukungan terutama dukungan pengunjung akademik kita gitu ya. Dan berbagai macam dukungan finansial maupun non-finansial yang dipersiapkan oleh LPDP," ujarnya.

Dirinya menjelaskan, LPDP sejak awal menekankan bahwa penerima beasiswa tidak hanya diharapkan manfaat pribadi, tetapi juga memberikan dampak sosial dan ekonomi bagi Indonesia. Maka dari itu, kini Handika aktif dalam organisasi alumni LPDP Mata Garuda sebagai Ketua Pilar Capacity Building.

"Kita memang diberikan amanah oleh LPDP itu adalah untuk ga cuma memberikan private return, tapi juga social and economic return. Jadi apa yang kita lakukan dengan mentoring, dengan aktif di Mata Garuda ini give back in terms of social return. Berkarya di sektor dunia profesional, saya sekarang di asosiasi fintech Indonesia, ini adalah istilah untuk memberikan economic return," ujarnya.

Bawa Pulang Misi Lindungi Konsumen

Di sisi lain, semangat memberikan kontribusi juga ditujukan oleh penerima LPDP batch kedua tahun 2025. Yustina, akan menempuh studi doktoral di King's College London, Inggris.

Sebagai pegawai negeri sipil (PNS), Yustina mengambil bidang ilmu kanker dan farmasi dengan fokus pada pengawasan kosmetik khususnya nanoteknologi.

Menurutnya, LPDP menjadi pilihan utama karena dukungan pendanaan yang kuat serta program yang sejalan dengan tujuan pribadinya.

"Dan memang saya ingin sekali mengembangkan pengawasan kosmetik di bidang narkotika, di produk nanokosmetik. Oleh karena saya melihat itu, karena memang rasa visinya sama dengan visi saya. Dan akhirnya saya maksudnya, ya udah pake LPDP aja gitu," ujar Yustina.

Namun, perjalanan menuju beasiswa tersebut tidak mudah. Yustina mengaku tantangan terbesar justru dari tekanan sosial di lingkungan sekitar. Sebagai seorang perempuan, ibu dari empat anak, sekaligus PNS, keputusannya untuk melanjutkan studi S3 ke luar negeri sempat dipertanyakan.

"Cuman tantangan yang paling saya rasakan itu adalah social pressure. Karena saya adalah perempuan, Ibu, PNS lagi, semua baru bertanya, apa sih yang dikejar, apa yang dicari? Kalau udah anak-anak punya kerjaan, punya keluarga disini, anak saya empat, dan saya harus meninggalkan mereka, itu berat buat saya," ujarnya.

Kendati demikian, Yustina memilih tetap fokus pada tujuan yang ingin dicapai. Menurutnya, dengan menempuh pendidikan lebih tinggi, dirinya dapat memberikan kontribusi lebih bagi masyarakat.

"Saya ingin kosmetik yang aman, saya juga pengguna kosmetik, anak-anak saya juga pengguna kosmetik, suami saya juga, semua keluarga saya juga. Jadi saya berpikir, kalau bukan aku, siapa lagi?," ujarnya.

Sebagai beasiswa yang menggunakan uang negara, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sebelumnya memberikan pesan kepada para penerima beasiswa LPDP agar tidak seenaknya dan tidak menghina negara. Pasalnya, uang LPDP yang diberikan adalah uang dari pajak dan utang negara.

Hal ini menyusul kasus penerima beasiswa Lembaga Pengelolaan Dana Pendidikan (LPDP) Dwi Sasetningtyas dan suaminya yang Arya Iwantoro.

"Saya harap ke depan teman-teman yang mendapat pinjaman LPDP ya gak seenak-enak, tapi jangan ngehina-ngehina negara itu uang dari pajak dan utang untuk memastikan SDM kita tumbuh," ujar Purbaya.

(haa/haa)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |