Konflik Timur Tengah Bisa Tekan Ekonomi Indonesia, Ini Peringatan Kemenkeu

4 hours ago 2

Konferensi pers APBN KiTa edisi Maret 2026 di Jakarta, Rabu (11/3/2026).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Ketegangan geopolitik di Timur Tengah mulai menimbulkan kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi Indonesia. Jika konflik meluas dan mengganggu jalur pelayaran minyak di Selat Hormuz, dampaknya dapat terasa langsung bagi masyarakat, terutama melalui kenaikan harga energi dan tekanan terhadap daya beli.

Pemerintah mengingatkan Selat Hormuz merupakan salah satu jalur utama distribusi minyak dunia. Gangguan di kawasan tersebut berpotensi memicu lonjakan harga minyak global yang kemudian merembet ke berbagai sektor ekonomi.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan ketidakpastian geopolitik saat ini sudah tercermin di pasar keuangan internasional. Investor cenderung menahan risiko dan memindahkan dana ke aset yang dianggap lebih aman.

“Ketidakpastian ini terlihat dari meningkatnya sentimen risk off di pasar global, ditandai volatilitas tinggi di berbagai indeks pasar, penguatan dolar AS, serta kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat,” kata Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTa edisi Maret 2026 di Jakarta, Rabu (11/3/2026).

Menurut dia, gejolak global tersebut dapat merambat ke perekonomian Indonesia melalui beberapa jalur. Salah satunya melalui perdagangan. Kenaikan harga minyak dunia berpotensi meningkatkan biaya impor energi Indonesia.

Jika kondisi itu terjadi, surplus neraca perdagangan bisa tertekan dan berdampak pada stabilitas neraca pembayaran. Pada akhirnya, tekanan tersebut bisa memengaruhi harga barang dan jasa di dalam negeri.

Selain itu, tekanan juga bisa muncul dari sektor keuangan. Ketidakpastian global biasanya membuat investor asing menarik dana dari negara berkembang, termasuk Indonesia.

sumber : ANTARA

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |