Ilustrasi(Dok Istimewa)
DALAM transisi menuju mobilitas berkelanjutan, industri otomotif mengembangkan berbagai jenis penggerak untuk menjembatani antara mesin bensin konvensional dan kendaraan listrik murni. Salah satu teknologi yang kini mulai digunakan adalah sistem Dual Mode (DM).
Secara prinsip, teknologi ini menggabungkan keunggulan motor listrik dengan fleksibilitas mesin pembakaran dalam (Internal Combustion Engine). Berbeda dengan sistem hybrid konvensional yang mengandalkan mesin bensin sebagai penggerak utama, teknologi Dual Mode modern menempatkan motor listrik sebagai aktor utama. Kendaraan ini dirancang agar mayoritas waktu berkendara (sekitar 80%) digerakkan oleh tenaga listrik.
Produsen BYD secara resmi memperkenalkan teknologi Dual Mode (DM) yang tersemat pada mobil M6 DM. Head of Product BYD Motor Indonesia, Bobby Bharata, menjelaskan bahwa filosofi dasar dari teknologi DM ini adalah memprioritaskan penggunaan motor listrik untuk efisiensi maksimal tanpa menghilangkan fleksibilitas mesin konvensional.
“Dual Mode Technology dasarnya adalah kendaraan listrik namun bisa diisi bensin, sederhananya seperti itu. Sehingga kita bisa mendapatkan fleksibilitas juga untuk efisiensi energi. Kita bisa ngecas, kita juga bisa isi bensin," ujar Bobby Barata dalam gelaran GIIAS pada Rabu (5/8).
Bobby menjelaskan, secara historikal perjalanan teknologi DM, sudah dikembangkan pertama kali di tahun 2008. Pada saat itu DM diklaim sebagai yang pertama sebagai pioneer untuk teknologi PHEV di dunia. Tidak berhenti di situ, DM terus mengalami perkembangan hingga tahun 2024 hadirlah versi DM 5.0, yang saat ini diboyong ke Indonesia lewat mobil M6 DM.
Secara teknis, teknologi DM generasi 5.0 ini menonjolkan efisiensi termal mesin yang mencapai 46,06%. Angka ini tergolong tinggi untuk mesin pembakaran dalam (Dedicated Hybrid Engine). Meski memiliki rasio kompresi tinggi yakni 16:1, dia menegaskan bahwa mesin ini tetap dapat beroperasi menggunakan bahan bakar dengan kadar oktan RON 92.
”Nah teknologi kami menghadirkan sistem di mana gas buang itu diolah lagi. Jadi gas buang itu nggak langsung menguap, tapi diolah lagi menjadi sistem pendingin, sehingga tadi kenapa kompresi rasio 16:1 itu bisa nggak overheat, meskipun kita pakai RON yang kecil,” jelas Bobby.
Selain performa, teknologi ini juga diklaim unggul dalam sisi operasional harian. Berdasarkan data internal, Bobby mengklaim biaya operasional per kilometer kendaraan dengan teknologi ini hanya menyentuh angka Rp360/km jauh di bawah kendaraan berbahan bakar minyak (ICE) murni yang rata-rata mencapai Rp967/km.
Jika diasumsikan kendaraan dengan teknologi dual mode menempuh jarak 150 km, maka biaya operasional yang dikeluarkan hanya sekitar Rp53 ribu. Sementara untuk mobil berbahan bakar minyak dengan jarak tempuh yang sama bisa mencapai biaya Rp145 ribu.
“Jadi kalau kita pakai DM kita bisa menghemat biaya hingga 50%-60% dibandingkan dengan fuel consumption. Jadi memang target utama kita adalah bagaimana teknologi ini me-reduce biaya operasional bagi penggunanya,” tukas Bobby.(H-2)
















































