Produser Ernest Prakasa, bersama aktris Kawai Labiba, dan Zulfa Maharani memaparkan latar film, pendalaman karakter, serta potret tekanan sosial yang menjadi dasar pengembangan film Operasi Pesta Copet dalam Content Day di Kopikina Kemang, Jakarta, Kamis ((MI/Chatrine Simanjuntak)
MEMAHAMI alasan seseorang memilih menjadi pencopet menjadi titik tolak pengembangan cerita Operasi Pesta Copet. Melalui riset yang mencakup kriminalitas, kriminologi, hingga observasi langsung ke permukiman pinggir rel, cerita film berkembang menjadi potret tekanan sosial yang dihadapi anak muda.
Sutradara Edy Khemod mengatakan tim kreatif semula melakukan riset dari berbagai sisi, mulai dari kriminalitas, kriminologi, hingga sosiologi. Namun, di tengah proses penulisan naskah, ia merasa pembahasan mengenai aspek hukum bukan lagi menjadi fokus utama film.
"Kita lebih tertarik soal sosiologinya. Apa yang bikin orang nyopet? Kenapa ini fenomena sosial yang banyak terjadi di anak muda sekarang? Itu menurut gue lebih menarik," katanya.
Perubahan tersebut semakin terasa ketika Edy melakukan survei ke kawasan permukiman di pinggir rel yang menjadi latar cerita.
Pengalaman melihat langsung kehidupan masyarakat di sana membuatnya mengubah pendekatan film yang semula dibangun sebagai komedi ringan.
"Gue bikin story-nya mereka tinggal di pinggir rel. Gue jadi ke rumah-rumah yang ada di pinggir rel, gue ngeliat, 'aduh kasihan banget ya hidup mereka kayak apa.' Gue jadi ngeliat kayak ini memang a real social issue. Dari situ gue kayak merubah. Tadinya gue ngerasa bikin cerita copet ini agak lucu-lucuan, kayak karikatural. Oh tapi ternyata di sini ada isu sosial," ujar Edy.
Menurut Edy, empati menjadi kunci dalam membangun nuansa komedi di tengah kisah yang sarat tekanan sosial. Ia mengaku pernah mengalami masa sulit dan bergaul dengan orang-orang yang hidup di lingkungan keras sehingga lebih mudah memahami cara pandang para karakter.
"Empati sih kuncinya. Gue pernah berada di situasi itu, pernah berteman sama orang yang tukang malak. Jadi gue bisa mengerti, mereka sebenarnya punya kemampuan, tapi salah lingkungan dan salah pergaulan."
Untuk menghadirkan gambaran yang lebih autentik, tim produksi juga menggandeng komunitas pesulap guna mempelajari teknik pickpocketing agar adegan pencopetan dilakukan langsung oleh para pemain.
Menurut Edy, langkah itu diambil karena produser Ernest Prakasa menginginkan proses pencopetan terlihat nyata tanpa mengandalkan hasil penyuntingan.
"Ernest menekankan dari awal dia enggak mau pencopetan dilakukan oleh editor. Jadi benar-benar nyopet dilakukan langsung. Akhirnya kami bekerja sama dengan teman-teman komunitas pesulap," ujarnya.
Sementara itu, produser Ernest Prakasa mengatakan film ini berusaha melihat sisi lain para pelaku pencopetan, termasuk alasan yang mendorong mereka terjerumus ke dunia tersebut.
"Bagaimana mereka terpaksa melakukan copet itu atau mereka memang ikut abang-abangan mereka untuk melakukan aksi itu," ujar Ernest.
Menurutnya, riset dilakukan agar film dapat menggambarkan fenomena tersebut berdasarkan realitas yang ditemukan di lapangan, bukan sekadar menampilkan aksi kriminal.
Ernest juga menambahkan, sejak tahap pengembangan skenario, tim telah berulang kali mendiskusikan isu kriminalitas dan kesenjangan sosial agar pesan yang disampaikan tetap konsisten dan tidak disalahartikan.
Karakter Jadi Cermin Pergulatan Anak Muda
Pesan tersebut juga tercermin pada karakter-karakter dalam film Kawai Labiba mengaku pengalaman berkesenian di dunia teater sejak kecil membantunya membangun karakter Melodi, terutama melalui eksplorasi gestur tubuh dan cara berdialog agar tokoh tersebut terasa hidup.
Menurut Kawai, Melodi bukan sekadar anggota termuda dalam kelompok pencopet amatir, tetapi juga mewakili anak muda yang tengah mencari arah hidup di tengah berbagai tekanan.
"Melodi itu paling bontot, aktif, ekspresif, dan menurutku cukup mewakili anak muda yang baru lulus sekolah, lagi berapi-api, lagi mencari tahu banyak hal. Dia juga sangat suka musik."
Setelah mendalami karakter tersebut, Kawai mengaku semakin memahami pergulatan yang dialami banyak anak muda saat ini.
"Mereka sebenarnya capek sama kehidupan yang dijalani. Kadang bertanya, 'gue sebenarnya mau jadi apa?' Mereka bisa melakukan apa pun untuk bertahan hidup, bahkan untuk mengeksplorasi diri."
Pandangan serupa juga disampaikan Zulfa Maharani yang memerankan Tia. Menurutnya, Tia merupakan perempuan dengan naluri bertahan hidup yang kuat, tetapi tidak memiliki banyak pilihan sehingga berusaha mencari jalan keluar dari kondisi hidupnya.
Untuk menghidupkan karakter tersebut, Zulfa menjalani proses reading, workshop, diskusi bersama sutradara dan konsultan, hingga melakukan observasi langsung ke lingkungan yang dinilai dekat dengan kehidupan Tia.
Ia juga menilai waktu latihan yang panjang membantu para pemain membangun kedekatan sehingga hubungan antartokoh terasa seperti keluarga, bukan sekadar komplotan.
"Kami dikasih waktu yang panjang untuk reading dan workshop. Itu otomatis membangun chemistry di antara kami semua," pungkasnya.
















































