Elbridge Colby.(Youtube Forbes)
PENTAGON tengah menyusun draf strategi senjata nuklir baru sebagai persiapan menghadapi potensi konflik dengan Tiongkok atau Rusia. Langkah ini menandai pergeseran signifikan dalam taktik militer Amerika Serikat (AS) yang selama ini sangat bergantung pada rudal strategis jarak jauh.
Strategi yang diawasi oleh Kepala Kebijakan Pentagon, Elbridge Colby, itu akan memberikan penekanan lebih besar pada penggunaan senjata nuklir taktis jarak pendek dalam skenario perang regional. Colby dijadwalkan membahas rencana tersebut pada Rabu (5/8) waktu setempat dalam acara militer tertutup di Nebraska, saat mengunjungi Komando Strategis AS yang mengawasi kekuatan nuklir.
Memperluas Opsi Presiden
Menurut sumber yang mengetahui rencana tersebut, strategi ini dirancang khusus untuk menangani skenario sekutu AS diserang oleh Rusia atau Tiongkok dalam konflik regional. Seorang pejabat senior Departemen Pertahanan AS menyatakan bahwa Washington membutuhkan opsi nuklir yang kredibel.
Strategi baru itu diklaim tidak akan membatasi pilihan Donald Trump jika terpilih kembali, melainkan justru memperluas ruang opsi presiden. "Kami ingin memberikan opsi yang realistis dan kredibel kepada pemimpin politik, sehingga memperkuat perlindungan kita," ujar pejabat tersebut kepada NBC.
Elbridge Colby telah lama mengadvokasi penggunaan senjata nuklir taktis. Ini merupakan hulu ledak lebih kecil dan berjarak pendek yang dirancang untuk penggunaan di medan perang atau target militer spesifik, alih-alih menghancurkan seluruh kota. Ia berpendapat bahwa doktrin nuklir AS saat ini kurang kredibel karena terlalu mengandalkan ancaman senjata strategis jarak jauh yang bersifat ekstrem.
Kutipan Utama:
"Jika Anda ingin pencegahan yang diperluas menjadi kredibel, Anda harus memberikan kemampuan nuklir yang secara akal sehat menunjukkan bahwa Anda benar-benar bisa menggunakannya. Jika tidak, Anda membatasi kepemimpinan pada pilihan ekstrem yang tidak akan dianggap kredibel oleh lawan."
Debat Risiko dan Kesiapan
Pergeseran kebijakan ini menghidupkan kembali debat era Perang Dingin mengenai bagaimana AS harus mengelola persenjataannya tanpa meningkatkan risiko perang nuklir total. Para kritikus berpendapat bahwa penekanan pada senjata nuklir taktis dapat menurunkan ambang batas penggunaan nuklir, karena senjata tersebut dianggap lebih mungkin digunakan dalam konflik konvensional.
Di sisi lain, beberapa pihak memperingatkan bahwa fokus ini bisa mengurangi kesiapan militer untuk skenario presiden mungkin lebih memilih mengerahkan senjata strategis jarak jauh. Seorang asisten senior kongres bahkan mengkritik studi ini karena dianggap tidak sejalan dengan posisi Trump yang ingin memperkuat pencegahan nuklir secara menyeluruh.
Hingga saat ini, tidak ada senjata nuklir yang pernah digunakan dalam konflik sejak AS menjatuhkan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki pada tahun 1945, yang mengakhiri Perang Dunia II. (The Telegraph/I-2)
















































