Upaya konservasi kunang-kunang di Desa Taro, Gianyar, dilakukan melalui penguatan pertanian regeneratif berbasis komunitas.(MI/Arnoldus Dhae)
UPAYA konservasi kunang-kunang di Desa Taro, Kecamatan Tegallalang, Kabupaten Gianyar, Bali, dilakukan melalui penguatan pertanian regeneratif berbasis komunitas. Langkah ini ditempuh untuk menjaga habitat kunang-kunang yang terancam alih fungsi lahan serta penggunaan pestisida dan pupuk kimia berlebih.
Program tersebut dijalankan melalui Pemberdayaan Berbasis Masyarakat (PBM) yang didanai Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Universitas Warmadewa. Pendampingan bersama Kelompok Petani Organik Tegal Dukuh, Desa Taro, berlangsung sejak 24 Mei hingga 8 Agustus 2026.
Ketua Tim Pengabdi sekaligus akademisi Fakultas Pertanian, Sains, dan Teknologi Universitas Warmadewa, Desak Ketut Tristiana Sukmadewi, mengatakan kunang-kunang merupakan indikator alami kondisi lingkungan.
"Kunang-kunang adalah bioindikator alami. Ketika ekosistem tanah dan air tercemar pestisida, populasi mereka akan merosot tajam," kata Desak saat dikonfirmasi di Denpasar, Kamis (13/8).
Menurut dia, pertanian regeneratif tidak hanya diarahkan untuk memulihkan kesuburan tanah dan menekan biaya produksi, tetapi juga membangun kawasan penyangga yang aman bagi habitat kunang-kunang.
PELAKSANAAN PROGRAM
Program tersebut diawali dengan penyusunan data dasar kondisi biofisik tanah melalui uji laboratorium. Pemeriksaan meliputi pH tanah, kandungan bahan organik, unsur hara NPK, Kapasitas Tukar Kation (KTK), residu pestisida, serta keanekaragaman mikroba tanah.
Data itu digunakan sebagai dasar penerapan Soil Health Index untuk memantau kondisi lahan secara berkala setiap enam bulan. Tim juga membuat plot percontohan atau demplot seluas 1.000 meter persegi sebagai sarana pembelajaran bagi petani.
Di lokasi tersebut, petani mendapat pendampingan mengenai budidaya ramah lingkungan, pengurangan penggunaan input kimia sedikitnya 30, pembuatan pupuk organik, serta pengendalian hama berbasis hayati.
"Kami tidak hanya mengajak petani beralih ke praktik ramah lingkungan secara intuitif, tetapi membuktikannya lewat kalkulasi data ilmiah dan analisis biaya usaha tani," ujar Desak.
Selain perbaikan kualitas tanah, program ini mencakup penyusunan masterplan kawasan konservasi berbasis arsitektur lanskap adaptif. Kawasan pertanian dan konservasi Desa Taro dirancang dalam tiga zona, yakni zona inti habitat, zona penyangga, dan zona pertanian regeneratif.
Sinergi akademisi, kelompok petani, dan dukungan pendanaan riset terapan tersebut diharapkan menjadikan Desa Taro sebagai model konservasi berbasis masyarakat. Program itu juga diarahkan untuk meningkatkan ketahanan kawasan terhadap perubahan iklim sekaligus mendukung pengembangan ekowisata Bali. (E-2)
















































