UEA Tuding Iran Serang 2 Kapal ADNOC di Selat Hormuz

3 hours ago 9
UEA Tuding Iran Serang 2 Kapal ADNOC di Selat Hormuz Selat Hormuz, Iran.(Google Maps)

UNI Emirat Arab (UEA) menuduh Iran menyerang dua kapal yang terkait dengan perusahaan minyak milik negara, Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC), saat melintas di Selat Hormuz, Kamis (13/8) waktu setempat. Serangan tersebut menambah ketegangan di jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu titik utama konflik di Timur Tengah. Kementerian Luar Negeri UEA mengecam serangan tersebut. Tidak ada korban luka dalam insiden tersebut.

ADNOC membenarkan dua kapalnya diserang ketika sedang melintasi Selat Hormuz pada Kamis malam. Perusahaan menyatakan situasi telah berhasil dikendalikan, seperti dilaporkan kantor berita resmi UEA, WAM.

Pada Jumat (14/8), United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) juga melaporkan dua insiden serupa yang melibatkan serangan pesawat nirawak terhadap kapal tanker di Selat Hormuz sehari sebelumnya. Serangan tersebut menyebabkan kerusakan ringan, tetapi tidak menimbulkan korban. Namun, belum dapat dipastikan apakah kapal yang dilaporkan UKMTO merupakan dua kapal milik atau berafiliasi dengan ADNOC.

“UKMTO menerima laporan dari otoritas militer bahwa sebuah kapal tanker terkena serangan kendaraan udara nirawak saat melakukan pelayaran keluar melalui Selat Hormuz. Kapal mengalami kerusakan ringan, seluruh awak dilaporkan selamat dan telah terdata, serta tidak ada dampak lingkungan yang dilaporkan,” kata UKMTO dalam dua pernyataan terpisah.

Insiden tersebut menjadi serangan terbaru terhadap kapal yang melintas di Selat Hormuz. Pekan sebelumnya, ADNOC mengatakan tiga kapal tankernya telah diserang di jalur perairan tersebut. Kementerian Luar Negeri UEA kemudian melaporkan serangan terhadap salah satu kapal ADNOC sehari setelahnya.

Selat Hormuz kini menjadi titik penting dalam ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat. Iran disebut telah memberlakukan blokade efektif di jalur tersebut dan berulang kali menyerang kapal komersial. Teheran juga menginginkan pengguna jalur pelayaran membayar biaya untuk melintas, tuntutan yang ditentang keras Washington.

Sebelum perang di Timur Tengah pecah pada Februari, kapal-kapal dapat melintasi Selat Hormuz secara bebas. Serangkaian serangan yang terjadi setelahnya ikut memperburuk situasi dan berkontribusi terhadap runtuhnya gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran pada April.

Kesepakatan yang dicapai pada Juni semula dimaksudkan menjadi pijakan awal untuk pembicaraan menuju penyelesaian permanen. Dalam kesepakatan itu, Iran dan Oman, yang sama-sama berbatasan dengan Selat Hormuz, akan membahas pengaturan masa depan jalur tersebut bersama negara-negara Teluk lainnya dengan mengacu pada hukum internasional yang berlaku.

Namun, pembukaan kembali Selat Hormuz masih menghadapi sejumlah tuntutan dari Teheran. Pekan lalu, Kepala Keamanan Iran Mohammad Bagher Zolghadr menyampaikan sejumlah syarat untuk membuka kembali jalur tersebut. Iran antara lain menuntut penghentian perang dan agresi terhadap Iran dan sekutunya di Lebanon, Palestina, Yaman, dan Irak.

Zolghadr juga menuntut penghentian blokade laut AS terhadap Iran, pencabutan sanksi, pembebasan aset Iran yang dibekukan, serta kompensasi atas kerusakan akibat perang. Pernyataan tersebut dilaporkan kantor berita Tasnim.

Rangkaian serangan terhadap kapal tanker dan tuntutan Iran tersebut membuat masa depan Selat Hormuz semakin tidak pasti. Gangguan terhadap jalur ini berpotensi memengaruhi aktivitas pelayaran dan perdagangan energi karena selat tersebut menjadi jalur penting bagi pergerakan kapal tanker di kawasan Teluk. (AFP/P-3)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |