Pertemuan Netanyahu dan Trump di Tengah Keretakan Strategi Perang Iran

2 weeks ago 5
Pertemuan Netanyahu dan Trump di Tengah Keretakan Strategi Perang Iran Donald Trump dan Benjamin Netanyahu.(Al Jazeera)

PERDANA Menteri Israel Benjamin Netanyahu dijadwalkan bertemu dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Gedung Putih pada Selasa (28/7/2026). Pertemuan ini menjadi krusial bagi kedua pemimpin yang tengah menghadapi tantangan elektoral besar di negara masing-masing, di tengah perbedaan visi yang semakin tajam mengenai perang dengan Iran.

Bagi Netanyahu, kunjungan ini merupakan kesempatan kedelapan untuk menunjukkan kedekatannya dengan Trump sejak sang presiden terpilih untuk masa jabatan kedua. Sebelum bertolak ke Washington pada Senin, Netanyahu menegaskan bahwa isu Iran akan menjadi agenda utama.

"Saya menjalankan misi ini dengan satu tujuan jelas, untuk memastikan keamanan, kekuatan, dan masa depan negara Israel yang kita cintai," ujar Netanyahu dalam pernyataan resminya.

Dilema Politik dan Kegagalan Target Perang

Analis menilai Netanyahu, yang saat ini tertinggal dalam jajak pendapat menjelang pemilu musim gugur di Israel, berada di bawah tekanan besar untuk membuktikan bahwa hubungan kerjanya dengan Trump tetap solid. Di sisi lain, Trump juga menghadapi pemilihan paruh waktu (midterm) AS pada November mendatang setelah terlibat dalam perang yang tidak populer.

Kedua pemimpin dianggap gagal memenuhi target perang bersama melawan Iran yang dimulai sejak akhir Februari lalu, yakni menghentikan program nuklir Iran dan menggulingkan rezim ulama di Teheran.

Danny Citrinowicz, spesialis Iran dari Institute for National Security Studies di Tel Aviv, mencatat ada ketidakselarasan kepentingan. "Kita melihat Trump tertarik untuk mencapai kesepakatan (dengan Iran), sementara Israel tidak ingin mendengar tentang kesepakatan apa pun," ujarnya. Pemimpin Israel lebih memilih kembali ke jalur peperangan karena khawatir perjanjian damai AS justru akan memperkuat posisi rezim Teheran.

Perbedaan Fokus Strategis

Selain perbedaan pandangan mengenai kesepakatan damai, fokus utama kedua negara mulai bercabang. Israel tetap terpaku pada ancaman eksistensial dari ambisi nuklir Iran, sementara Trump lebih memprioritaskan pemulihan arus lalu lintas di Selat Hormuz, jalur pengiriman minyak yang vital bagi ekonomi global.

Ketegangan juga dipicu oleh langkah AS yang cenderung bergerak sendiri dalam pertempuran terbaru dan sempat meninggalkan Israel dalam pembicaraan damai sebelumnya. Analis menyebut jika Trump memperluas serangan ke Iran, ia kemungkinan besar akan tetap membiarkan Israel berada di pinggir lapangan untuk menghindari kesan kolaborasi yang dianggap gagal beberapa bulan lalu.

Ironi Nuklir: Citrinowicz menyoroti ironi saat Netanyahu sebelumnya mendesak Trump untuk menghabisi Ayatollah Ali Khamenei guna mencegah senjata nuklir. Kini, dengan ada pemimpin baru di Iran, Israel kembali menyuarakan tuntutan serupa untuk menghentikan ambisi nuklir Teheran.

Keretakan Hubungan Pribadi

Hubungan yang sebelumnya terlihat mesra kini tampak fluktuatif. Trump sempat melontarkan komentar yang meremehkan Netanyahu dengan menyebut, "Dia akan melakukan apa pun yang saya inginkan." Pernyataan ini memicu kemarahan loyalis Netanyahu yang kemudian berbalik menyerang presiden AS tersebut.

Kekhawatiran Israel semakin memuncak setelah Trump menandatangani perjanjian dengan Arab Saudi pekan lalu untuk pengembangan program nuklir sipil. Meski Trump menyatakan kesepakatan itu bergantung pada normalisasi hubungan Saudi-Israel, pihak Israel tetap tidak yakin dan khawatir akan terjadi perlombaan senjata regional.

Isu Regional Lain

Selain Iran, sejumlah isu Timur Tengah lain turut membebani pertemuan ini:

  • Libanon dan Suriah: Pemerintahan Trump membatasi aksi militer Israel terhadap Hizbullah dan mendesak penarikan pasukan dari Libanon selatan serta Suriah.
  • Gaza dan Tepi Barat: Gencatan senjata di Gaza yang mulai goyah serta meningkatnya kekerasan di Tepi Barat menjadi beban tambahan bagi Netanyahu menjelang pemilu.

Meskipun hubungan keduanya tampak berada di titik rendah, para analis mengingatkan bahwa Netanyahu memiliki rekam jejak mampu memengaruhi Trump di saat-saat terakhir. Hasil pertemuan di Gedung Putih besok akan menjadi indikator apakah keduanya masih berada dalam satu visi atau justru semakin menjauh. (New York Times/I-2)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |