Polisi Ungkap Jejak Terakhir Sinyal Ponsel Jurnalis Sebelum Hilang Kontak di Perairan Anak Krakatau

3 hours ago 1

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tim SAR gabungan memutuskan untuk menghentikan operasi pencarian terhadap speed boat Arupadhatu 1 yang hilang kontak di perairan Selat Sunda, Kamis (17/9/2026). Pasalnya, operasi SAR yang dilakukan selama 10 hari terakhir tak juga membuahkan hasil.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabid Humas) Polda Banten, Kombes Pol Maruli Ahiles Hutapea, mengatakan terdapat nomor telepon milik salah satu jurnalis yang terdeteksi pada hari pertama setelah kapal dinyatakan hilang kontak. Nomor itu disebut milik Firdaus Wajidi dari Anadolu.

“Nomor tersebut milik Bang Daus, salah satu jurnalis yang berada di dalam kapal. Menggunakan kartu Telkomsel Kartu Halo dengan perangkat iPhone 14,” kata dia, Kamis malam.

Maruli menjelaskan, nomor tersebut terdeteksi oleh jaringan BTS di wilayah Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan, tepatnya di sekitar Pulau Sebesi. Setelah itu, perangkat tersebut dalam kondisi tidak aktif dan sampai saat ini tidak kembali terdeteksi menyala.

"Artinya sebelum dinyatakan hilang kontak, masih ditemukan adanya transaksi elektronik di handphone tersebut. Berarti itu di hari Senin, melalui telepon atau telepon WA atau SMS atau chat WA yang ter-record di tower BTS di daerah Pulau Sebesi," kata dia. 

Sementara terkait temuan jenazah di Pulau Enggano Provinsi Bengkulu, Maruli mengungkapkan bahwa pihaknya telah berkoordinasi dengan Polda Bengkulu untuk melakukan proses identifikasi dan persesuaian data. Berdasarkan informasi awal, jenazah tersebut berjenis kelamin laki-laki, dengan perkiraan usia sekitar 50 tahun dan tinggi badan kurang lebih 163 sentimeter.

Menurut dia, jenazah itu mengenakan celana pendek jenis boxer ketika ditemukan. Kondisi jenazah juga disebut telah berbau.

"Pada saat ditemukan tidak ada keluarga di wilayah Enggano, Pulau Enggano yang merasa kehilangan, sehingga dari Forkopimcam di wilayah Enggano menguburkan malam hari tersebut," kata dia.

Meski begitu, pihaknya telah berkoordinasi dengan Polda Bengkulu untuk melakukan ekshumasi. Jenazah kemudian dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Polda Bengkulu untuk dilakukan pemeriksaan dan proses identifikasi.

Maruli mengatakan, Polda Banten telah menyerahkan data antemortem yang diperoleh dari keluarga para korban, termasuk data DNA, kepada Polda Bengkulu. Saat ini, Polda Bengkulu masih melakukan proses identifikasi terhadap jenazah tersebut.

“Saat ini proses identifikasi masih berlangsung dan dilakukan secara ilmiah oleh tim terkait, proses identifikasi pada umumnya membutuhkan waktu kurang lebih dua minggu. Namun demikian, Polda Banten berharap proses tersebut dapat diselesaikan lebih cepat sehingga dapat memberikan kepastian kepada keluarga,” kata dia.

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |