Kekeringan di Cianjur.(Dok. MI)
POTENSI risiko kekeringan di wilayah Ciayumajakuning, terdiri dari Cirebon, Indramayu, Majalengka dan Kuningan, semakin meningkat. Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kertajati, Muhammad Syifa'ul Fuad, menjelaskan musim kemarau pada Agustus ini di wilayah Cirebon semakin menguat.
“Durasi hari tanpa hujan (HTH) di sebagian besar Wilayah Ciayumajakuning saat ini masuk kategori cukup panjang hingga sangat panjang,” tutur Fuad, Kamis (6/8). Durasi hari tanpa hujan yang tercatat di sebagian besar wilayah Ciayumajakuning bervariasi antara 30 hingga 60 hari.
Diprakirakan, lanjut Fuad, curah hujan sepanjang Agustus 2026 di Wilayah Ciayumajakuning berada pada kategori dibawah normal. Dampaknya, potensi resiko kekeringan di sejumlah wilayah pun meningkat. “Kondisi tersebut dipengaruhi oleh beberapa fenomena, salah satunya El Nino yang saat ini terpantau sedang aktif dan intensitas cukup kuat,” tutur Fuad. Kondisi tersebut berkontribusi terhadap berkurangnya pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia, termasuk wilayah Jawa Barat bagian timur seperti Ciayumajakuning.
Imbauan BMKG
Menghadapi potensi kekeringan yang semakin menguat BMKG mengimbau kepada pemerintah daerah, instansi terkait, dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai dampak yang bisa timbul akibat musim kemarau yang lebih kering dari biasanya. Untuk sektor pertanian misalnya petani diminta untuk bisa menyusun strategi penyesuaian jadwal tanam sesuai dengan ketersediaan air saat ini.
“Petani diminta memprioritaskan penggunaan variates tanaman yang lebih tahan terhadap kondisi kekeringan, mengoptimalkan pemanfaatan irigasi secara efisien dan melakukan penghematan penggunaan air,” ungkap Fuad. Petani juga diminta meningkatkan pemantauan kondisi lahan dan tanaman untuk mengurangi resiko gagal panen.
Sedangkan untuk sektor sumber daya air dan energi, pengelola waduk, bendung dan embung diimbau melakukan perhitungan dan pemantauan ketersediaan air baku secara berkala. Selain itu, menyusun strategi pengendalian kebutuhan energi selama musim kemarau untuk mengantisipasi potensi penurunan produksi listrik tenaga air.
Kesiapsiagaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) semakin meningkat sehingga kesiapsiagaan pun harus ditingkatkan. “Khususnya di wilayah yang memiliki vegetasi kering. Patroli edukasi dan pengawasan ketat terhadap pembakaran lahan liar harus ditingkatkan,” ungkap Fuad. (H-3)
















































