Stok Rudal Pencegat AS Menipis akibat Serangan Intensif Iran di Yordania

2 hours ago 7
Stok Rudal Pencegat AS Menipis akibat Serangan Intensif Iran di Yordania Ilustrasi.(Magnific)

MILITER Amerika Serikat (AS) dilaporkan tengah menghadapi tekanan besar pada stok amunisi pertahanan udara mereka. Dalam serangan rudal Iran ke Yordania pekan lalu, pasukan AS harus menembakkan lebih dari 70 rudal pencegat (interceptor) kelas atas untuk menghalau ancaman tersebut.

Menurut laporan pejabat AS dan regional, pengeluaran besar-besaran ini menggarisbawahi peningkatan kemampuan Iran dalam menargetkan pasukan Amerika dan menantang sistem pertahanan udara mereka. Dalam satu insiden saja, AS menembakkan sekitar 60 hingga 70 pencegat Patriot untuk menangkis sekitar 20 rudal balistik Iran. Selain itu, lebih dari selusin pencegat THAAD (Terminal High Altitude Area Defense) juga dikerahkan.

Taktik Adaptif Iran

Para ahli militer mencatat bahwa Iran mengadaptasi taktik mereka untuk memaksa AS menghabiskan amunisi berharga. Serangan terbaru melibatkan hulu ledak yang dapat terpisah menjadi beberapa proyektil saat mendekati target, sehingga jauh lebih sulit untuk dicegat.

Meskipun tidak ada tentara yang tewas dalam serangan di Pangkalan Udara Muwaffaq Salti, Yordania, tersebut, pertahanan AS tidak mampu menghentikan segalanya. Beberapa jet tempur dan pesawat lain di pangkalan tersebut dilaporkan berhasil terkena hantaman.

Data Penggunaan Amunisi AS (Hingga Pertengahan Juli):

  • Rudal Patriot: Sekitar 1.700 unit telah ditembakkan.
  • Rudal THAAD: Lebih dari 200 unit telah digunakan.
  • Standard Missile (Angkatan Laut): Sekitar 150 unit dikerahkan untuk menjatuhkan drone dan rudal.

Krisis Inventaris dan Bottleneck Produksi

Laporan dari Inspektur Jenderal Departemen Pertahanan AS pekan ini mengonfirmasi kekurangan inventaris strategis dan hambatan basis industri untuk pasokan ulang amunisi. Meskipun Lockheed Martin memproduksi rekor 620 pencegat Patriot pada tahun 2025 dan menargetkan 2.000 unit per tahun, permintaan di medan tempur melampaui kecepatan produksi.

Perencana militer khawatir bahwa pengiriman besar-besaran amunisi ke Timur Tengah mengurangi kemampuan AS untuk mempertahankan diri dari potensi ancaman dari Tiongkok dan Rusia. Di Eropa, stok pencegat PAC-3 Patriot dan rudal Atacms bahkan dianggap sudah berada pada level kritis.

Dampak Regional

Kondisi ini memicu kekhawatiran di kalangan sekutu AS di Teluk Persia. Negara-negara seperti Arab Saudi dan Emirat Arab kini berebut mencari sumber rudal pencegat alternatif setelah stok mereka sendiri menurun akibat menangkis ribuan serangan drone dan rudal Iran selama enam bulan terakhir.

Hamidreza Azizi, analis senior dari International Crisis Group, menilai bahwa tujuan Iran yaitu membuat kehadiran militer AS di kawasan tersebut menjadi tidak berkelanjutan dan sangat mahal. "Sekarang tampaknya Yordania juga tidak lagi seaman dulu," ujarnya.

Di sisi lain, Pentagon melalui juru bicara Sean Parnell membantah laporan bahwa amunisi AS telah habis dengan menegaskan bahwa militer AS tetap menjadi kekuatan tempur terkuat di dunia. Namun, data di lapangan menunjukkan ada perlombaan senjata yang sengit antara kapasitas rudal balistik Iran dan kemampuan industri AS untuk memproduksi pencegatnya. (The Wall Street Journal/I-2)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |