Tiongkok Blokir Akuisisi Manus AI, Meta Batalkan Transaksi Rp35 Triliun

4 hours ago 2
Tiongkok Blokir Akuisisi Manus AI, Meta Batalkan Transaksi Rp35 Triliun Perusahaan rintisan kecerdasan buatan (AI) Manus.(South China Morning Post)

META Platforms, perusahaan induk Facebook, akan membatalkan sepenuhnya akuisisi perusahaan rintisan kecerdasan buatan (AI) Manus yang didirikan di Tiongkok. Langkah tersebut dilakukan lebih dari tiga bulan setelah Beijing memblokir transaksi senilai sekitar US$2 miliar atau sekitar Rp35 triliun dengan alasan keamanan nasional.

Pembatalan transaksi ini menandai salah satu perkembangan terbaru dalam pemisahan teknologi Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok, terutama di sektor kecerdasan buatan yang menjadi arena persaingan strategis kedua negara.

Manus, melalui pemberitahuan kepada pengguna pada Selasa (11/8) waktu setempat, mengatakan akan menghapus data yang dibuat oleh 'pengguna tertentu' sejak 29 Desember, bertepatan dengan periode setelah Meta mengakuisisi perusahaan rintisan tersebut.

Pengguna yang terdampak diminta mencadangkan data mereka hingga 23 Agustus. Sementara itu, pengguna lain masih dapat menggunakan layanan Manus tanpa gangguan.

Manus mengatakan penghapusan data diperlukan “untuk mematuhi persyaratan regulasi di wilayah tertentu di dunia”. Namun, perusahaan tidak menjelaskan secara spesifik regulasi atau negara yang dimaksud.

Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari proses transisi Manus untuk kembali beroperasi secara independen setelah transaksi dengan Meta dibatalkan.

Diblokir Tiongkok

Manus diluncurkan pada Maret 2025 sebagai platform agen AI yang dapat menjalankan berbagai tugas secara otomatis atas nama pengguna, termasuk menjelajahi internet dan menyusun laporan.

Platform tersebut dikembangkan Butterfly Effect, perusahaan rintisan yang didirikan pada 2022. Perusahaan itu sebelumnya memiliki kantor di Beijing dan Wuhan sebelum mengubah merek Manus menjadi perusahaan yang berbasis di Singapura pada tahun lalu.

Dalam proses tersebut, perusahaan memberhentikan sejumlah pekerja berbasis di Tiongkok dan menghapus sebagian besar keberadaan daringnya di negara itu.

Perubahan struktur tersebut memungkinkan Manus menghindari sejumlah pembatasan AS terkait aliran modal dan teknologi ke Tiongkok. Manus juga memperoleh akses terhadap model AI AS dari perusahaan seperti OpenAI dan Anthropic, serta chip semikonduktor canggih dari Nvidia.

Langkah tersebut kemudian membuka jalan bagi akuisisi Manus oleh Meta pada akhir Desember dengan nilai yang dilaporkan mencapai US$2 miliar atau sekitar Rp35 triliun.

Akuisisi tersebut menjadi salah satu contoh langka kerja sama teknologi antara perusahaan AS dan Tiongkok di tengah persaingan teknologi yang semakin tajam antara Washington dan Beijing.

Namun, transaksi itu segera mendapat perhatian pemerintah Tiongkok. Beijing melakukan penyelidikan selama berbulan-bulan untuk menentukan apakah akuisisi tersebut melanggar ketentuan di Tiongkok.

Penyelidikan berakhir pada April dengan perintah agar Meta dan Manus membatalkan sepenuhnya transaksi tersebut. Pemerintah Tiongkok mendasarkan keputusan itu pada pertimbangan keamanan nasional.

Manus Kembali Independen

Dalam pemberitahuan terbarunya kepada pengguna, Manus tidak menjelaskan secara rinci bagaimana perusahaan akan beroperasi setelah kembali menjadi perusahaan independen.

Financial Times pada Juli melaporkan perusahaan teknologi Tiongkok, Tencent Holdings, tengah bernegosiasi untuk menjadi pemegang saham terbesar baru Manus. Sejumlah investor awal Manus dari Tiongkok, termasuk ZhenFund dan HSG, juga disebut terlibat dalam pembicaraan mengenai pembatalan transaksi.

Sejak diakuisisi Meta, teknologi agen AI Manus telah diintegrasikan ke dalam sejumlah produk utama Meta, termasuk Instagram. Sebagian anggota tim Manus juga sebelumnya mendapat akses ke kantor dan akun perusahaan Meta di Singapura.

Setelah proses pembatalan akuisisi selesai, data pengguna Manus akan tetap disimpan di AS dan Singapura, menurut pemberitahuan terbaru perusahaan.

Pembatalan akuisisi Manus memperlihatkan semakin kompleksnya hubungan bisnis teknologi antara AS dan Tiongkok. Perusahaan AI yang memiliki akses terhadap teknologi, modal, dan infrastruktur dari kedua negara menghadapi pengawasan yang semakin ketat atas dasar keamanan nasional dan regulasi. (South China Morning Post/B-3)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |