Ilustrasi(Anadolu )
PEMERINTAH Tiongkok menyampaikan keprihatinan mendalam atas kembali meningkatnya ketegangan di kawasan Teluk. Eskalasi ini dipicu oleh keputusan Amerika Serikat (AS) untuk mengaktifkan kembali blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran di sekitar Selat Hormuz.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Lin Jian, menegaskan bahwa Beijing berharap seluruh pihak yang bertikai dapat menahan diri. Ia menekankan pentingnya menjaga upaya perdamaian yang sebelumnya telah diupayakan oleh komunitas internasional.
"Tiongkok sangat prihatin atas dimulainya kembali konflik militer di kawasan Teluk," ujar Lin Jian dalam konferensi pers di Beijing, Selasa (14/7/2026).
Lin meminta semua pihak yang terlibat untuk memperhatikan seruan internasional demi menjaga stabilitas kawasan. Langkah ini dinilai krusial guna mencegah konflik berkembang menjadi perang yang lebih luas dan destruktif.
"Memperhatikan seruan kuat untuk perdamaian dan stabilitas di kawasan tersebut, tetap tenang, menahan diri, menjaga gencatan senjata yang telah susah payah diraih, dan menghindari kembalinya perang," tambahnya.
Perlindungan Sipil dan Keamanan Jalur Pelayaran
Selain stabilitas politik, Tiongkok juga menyoroti aspek kemanusiaan. Lin menekankan bahwa AS dan Iran memiliki tanggung jawab besar untuk mencegah pertempuran menyebar ke area yang dapat melukai warga sipil.
"Yang lebih penting, AS dan Iran harus mencegah pertempuran menyebar dan melukai lebih banyak orang yang tidak bersalah," tegas Lin.
Lebih lanjut, Beijing menilai hak dan kepentingan negara-negara pesisir di sepanjang Selat Hormuz harus dihormati. Hal ini berkaitan erat dengan kelancaran jalur pelayaran internasional yang menjadi urat nadi perdagangan energi dunia.
"Penghormatan terhadap hak dan kepentingan sah negara-negara pesisir Selat Hormuz, dan dimulainya kembali jalur pelayaran normal dan aman di selat tersebut, adalah apa yang ingin dilihat oleh komunitas internasional," lanjutnya.
Latar Belakang Eskalasi
Situasi di kawasan Teluk kembali memanas setelah sempat mereda melalui nota kesepahaman (MoU) yang dimediasi Pakistan dan dukungan Qatar. Namun, harapan perdamaian tersebut pupus setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan pada 8 Juli bahwa gencatan senjata telah berakhir menyusul pecahnya kembali permusuhan di lapangan.
Ketegangan ini merupakan kelanjutan dari konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang mulai memuncak sejak 28 Februari. Saat ini, aksi saling serang kembali terjadi, termasuk meningkatnya insiden yang menyasar kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz.
Tiongkok mendesak agar semua pihak bekerja sama mencari solusi diplomatik yang tepat. "Pihak-pihak terkait perlu bekerja ke arah yang sama dan melihat penyelesaian yang tepat," pungkas Lin. (Fer/I-1)


















































