F-35.(Al Jazeera)
PRESIDEN Amerika Serikat Donald Trump menegaskan bahwa dirinya tidak akan mengubah kebijakan terkait rencana penjualan jet tempur F-35 ke Turki, meskipun mendapatkan penolakan keras dari Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Trump menekankan bahwa Ankara merupakan sekutu penting dan hubungan bilateral kedua negara tetap berada dalam kondisi yang kuat.
Berbicara kepada awak media di dalam pesawat Air Force One pada Senin (27/7/2026), Trump menyatakan bahwa keputusan mengenai penjualan alat utama sistem persenjataan (alutsista) sepenuhnya merupakan kewenangan pemerintah Amerika Serikat.
"Tidak ada yang bisa mengatur saya apa yang seharusnya kita jual," tegas Trump sebagaimana dilansir dari Anadolu, Selasa (28/7/2026).
Puji Kepemimpinan Erdogan
Dalam kesempatan tersebut, Trump memberikan penilaian positif terhadap hubungan Washington dengan Ankara. Ia memuji kepemimpinan Presiden Recep Tayyip Erdogan dan menyebutnya sebagai sosok teman yang menjalankan peran dengan baik dalam berbagai isu kawasan, termasuk situasi di Suriah.
Trump juga menilai kemampuan militer Turki sangat signifikan bagi stabilitas kawasan. "(Turki) memiliki militer yang sangat besar. Negara yang sangat kuat," ujarnya menambahkan.
Rencana penjualan jet tempur generasi kelima ini kembali mencuat setelah Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) NATO. Trump mengisyaratkan kemungkinan pencabutan sanksi terhadap Ankara agar proses pengadaan F-35 dapat dilanjutkan.
Kendala Sanksi CAATSA
Sebagai informasi, Amerika Serikat sebelumnya menjatuhkan sanksi kepada Turki berdasarkan Undang-Undang Countering America's Adversaries Through Sanctions Act (CAATSA). Sanksi ini diberikan setelah Ankara memutuskan untuk membeli sistem pertahanan udara S-400 buatan Rusia.
Sanksi tersebut berdampak pada industri pertahanan Turki, termasuk pembatasan lisensi ekspor serta hambatan di sektor keuangan dan perbankan. Jika Washington memutuskan untuk melanjutkan penjualan F-35, pemerintah AS harus memastikan Turki tidak lagi mengoperasikan sistem pertahanan udara asal Rusia tersebut.
Di sisi lain, Presiden Erdogan berharap pembahasan ini membuahkan hasil yang menguntungkan. Ia mengingatkan bahwa Turki sebelumnya telah dijanjikan pengiriman lima jet tempur F-35 oleh pihak Amerika Serikat.
Penolakan Keras Israel
Sementara itu, PM Israel Benjamin Netanyahu secara terbuka menyatakan keberatannya. Ia menilai kehadiran F-35 di Turki berpotensi mengubah keseimbangan kekuatan di Timur Tengah dan mengancam keamanan Israel.
"Dia (Erdogan) bukan sekutu teladan bagi Amerika Serikat. Dia mengancam untuk menghancurkan negara saya, satu-satunya negara Yahudi," kata Netanyahu.
Perbedaan pandangan yang tajam antara Washington dan Tel Aviv mengenai isu ini diprediksi akan menjadi agenda utama dalam pertemuan mendatang antara Trump dan Netanyahu, mengingat dinamika keamanan yang terus berkembang di kawasan tersebut. (I-2)
















































