WHO Soroti Rendahnya Konsumsi Buah di Indonesia, Pola Makan Jadi Faktor Utama

1 week ago 8
WHO Soroti Rendahnya Konsumsi Buah di Indonesia, Pola Makan Jadi Faktor Utama Ilustrasi(Dok Magnific)

INDONESIA dikenal sebagai negara tropis yang kaya akan beragam jenis buah, mulai dari mangga, pisang, pepaya, hingga rambutan. Ironisnya, ketersediaan buah yang melimpah tidak sejalan dengan kebiasaan masyarakat dalam mengonsumsinya. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyoroti bahwa rendahnya konsumsi buah dan sayuran di Indonesia kini menjadi salah satu tantangan serius dalam upaya mencegah penyakit tidak menular.

Dalam laporan terbarunya, WHO menyebut perubahan pola makan masyarakat menjadi faktor utama di balik menurunnya konsumsi buah. Makanan dan minuman ultra-proses yang tinggi gula, garam, dan lemak kini semakin mudah ditemukan, harganya relatif terjangkau, serta dipasarkan secara agresif. Kondisi tersebut membuat banyak orang lebih memilih makanan praktis dibandingkan buah segar sebagai bagian dari menu harian.

Pola Makan Berubah, Buah makin Ditinggalkan

WHO mencatat hanya 3,3 persen penduduk Indonesia berusia lima tahun ke atas yang memenuhi anjuran mengonsumsi sedikitnya lima porsi buah dan sayuran setiap hari. Angka ini menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat masih belum mendapatkan asupan buah dan sayur yang cukup untuk mendukung kesehatan.

Perubahan gaya hidup juga menjadi faktor penting. Kesibukan bekerja, meningkatnya konsumsi makanan cepat saji, hingga kebiasaan memilih camilan kemasan membuat buah semakin jarang menjadi pilihan. Padahal, buah merupakan sumber vitamin, mineral, serat, dan antioksidan yang dibutuhkan tubuh untuk menjaga fungsi organ dan meningkatkan daya tahan tubuh.

Berdampak pada Risiko Penyakit Kronis

WHO merekomendasikan konsumsi sedikitnya 400 gram buah dan sayuran setiap hari atau sekitar lima porsi. Asupan tersebut terbukti dapat membantu menurunkan risiko berbagai penyakit tidak menular, seperti penyakit jantung, stroke, diabetes tipe 2, hingga beberapa jenis kanker.

Sebaliknya, pola makan yang rendah buah dan sayur dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan dalam jangka panjang. WHO menyebut pola makan tidak sehat kini menjadi salah satu faktor risiko terbesar penyebab kematian dan disabilitas di Indonesia. Tingginya konsumsi makanan tinggi gula, garam, dan lemak juga berkontribusi terhadap meningkatnya kasus obesitas yang terus mengalami kenaikan dalam beberapa tahun terakhir.

Pemerintah Siapkan Langkah Perbaikan

Melihat kondisi tersebut, WHO mendukung pemerintah Indonesia dalam menerapkan berbagai kebijakan untuk menciptakan lingkungan pangan yang lebih sehat. Beberapa langkah yang tengah disiapkan antara lain pelabelan gizi pada bagian depan kemasan, pembatasan promosi makanan tidak sehat, reformulasi produk agar mengandung lebih sedikit gula, garam, dan lemak, hingga penerapan kebijakan fiskal untuk mendorong masyarakat memilih makanan yang lebih sehat.

WHO menilai kebijakan tersebut tidak hanya bertujuan mengurangi konsumsi makanan ultra-proses, tetapi juga meningkatkan konsumsi buah dan sayuran sebagai bagian dari pola makan seimbang.

Perlu Dimulai dari Kebiasaan Sehari-hari

Para ahli menilai meningkatkan konsumsi buah tidak harus dilakukan dengan cara yang rumit. Menjadikan buah sebagai camilan, menambahkan buah pada menu sarapan, atau mengganti makanan ringan kemasan dengan buah segar dapat menjadi langkah sederhana yang memberikan manfaat besar bagi kesehatan.

Di tengah meningkatnya kasus penyakit tidak menular di Indonesia, kebiasaan mengonsumsi buah setiap hari menjadi salah satu investasi kesehatan yang penting. Dengan dukungan kebijakan pemerintah dan perubahan pola makan masyarakat, konsumsi buah diharapkan dapat meningkat sehingga kualitas kesehatan masyarakat Indonesia ikut membaik. (Netty Fatmawati Pane/E-4)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |