AI Kini Bisa Menganalisis Suara untuk Mendeteksi Tanda-tanda Penyakit

4 days ago 18
AI Kini Bisa Menganalisis Suara untuk Mendeteksi Tanda-tanda Penyakit Ilustrasi(magnifik)

SUARA manusia ternyata tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga dapat menyimpan informasi mengenai kondisi kesehatan. 

Perkembangan kecerdasan buatan (AI) kini memungkinkan peneliti menganalisis perubahan kecil dalam cara seseorang berbicara, bernapas, hingga kualitas suara untuk mencari tanda-tanda penyakit. 

Teknologi yang dikenal sebagai vocal biomarkers ini berpotensi membantu mendeteksi dan memantau berbagai kondisi, termasuk Parkinson, Alzheimer, depresi, gagal jantung, dan diabetes tipe 2.

Suara Menyimpan Sinyal Kesehatan

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa perubahan suara dapat memberikan petunjuk mengenai proses fisiologis maupun kognitif yang terjadi di dalam tubuh. AI dapat digunakan untuk mengolah karakteristik suara yang sangat halus, sehingga perubahan yang sulit dikenali manusia dapat dianalisis sebagai data kesehatan.

Menurut University of South Florida (USF Health), para peneliti dan klinisi dari USF Morsani College of Medicine serta Luxembourg Institute of Health tengah mengembangkan kerangka ilmiah untuk vocal biomarkers. 

Upaya ini melibatkan 24 pakar internasional dari Eropa dan Amerika Utara dan menjadi bagian dari inisiatif VOCAL yang bertujuan membangun standar untuk penelitian biomarker suara.

NIH Kembangkan AI Berbasis Data Suara

Pengembangan teknologi biomarker suara mendapat dukungan National Institutes of Health (NIH) melalui program Bridge2AI, yang diluncurkan pada 2022 dengan investasi hingga US$130 juta selama empat tahun untuk memperluas penggunaan AI dalam penelitian biomedis dan perilaku. 

Salah satu proyeknya, Bridge2AI-Voice, berfokus mengumpulkan data suara, ucapan, dan batuk secara etis yang dikaitkan dengan informasi kesehatan, sehingga dapat digunakan peneliti untuk mengembangkan dan menguji model AI dalam mengenali pola suara yang berpotensi berkaitan dengan berbagai penyakit.

Bisa Digunakan untuk Skrining Penyakit

Potensi teknologi ini terlihat dalam studi Bridge2AI-Voice yang menguji model AI untuk skrining lesi laring, termasuk kondisi jinak, prakanker, dan kanker, menggunakan data 205 peserta dan 131 fitur akustik dari rekaman suara. 

Hasilnya menunjukkan bahwa analisis suara dapat membantu membedakan peserta dengan lesi laring dari kelompok kontrol, meski teknologi tersebut masih memerlukan pengujian dan validasi lebih lanjut sebelum dapat diterapkan secara luas dalam layanan kesehatan.

Mengapa Teknologi Ini Menarik?

Salah satu keunggulan biomarker suara adalah pengumpulan datanya relatif sederhana dan noninvasif karena dapat dilakukan melalui perangkat digital, sehingga berpotensi mendukung pemantauan kesehatan jarak jauh dan skrining awal. 

Namun, studi kelayakan Bridge2AI-Voice menunjukkan masih ada tantangan dalam penerapannya. Dari 47 peserta yang memiliki perangkat pintar, hanya 41 persen yang berhasil menyelesaikan tugas perekaman akustik, menunjukkan bahwa teknologi ini masih perlu ditingkatkan, terutama dari sisi desain aplikasi dan kemudahan penggunaannya.

Belum Bisa Menggantikan Diagnosis Dokter

Meski menjanjikan, AI belum dapat digunakan untuk mendiagnosis penyakit hanya berdasarkan suara karena biomarker vokal masih perlu diuji agar konsisten, akurat, dan dapat diterapkan pada berbagai populasi. 

USF dan Luxembourg Institute of Health menilai diperlukan standar ilmiah yang seragam, sehingga kerangka VOCAL dikembangkan untuk membedakan pengukuran suara dengan biomarker yang telah tervalidasi serta mendukung penyusunan standar validasi dan regulasi. 

Jika terus dikembangkan, teknologi ini berpotensi membantu skrining dan pemantauan penyakit secara non-invasif, tetapi untuk saat ini hasil analisis AI tetap menjadi alat pendukung dan tidak menggantikan diagnosis dokter.

Sumber: National Institutes of Health (NIH), University of South Florida

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |