Amnesty Sebut Rezim Otoriter Perburuk Krisis Iklim Global

3 hours ago 1

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Organisasi hak asasi manusia (HAM) Amnesty International menilai praktik otoritarian yang semakin menguat di berbagai penjuru dunia memperburuk krisis iklim. Amnesty menegaskan tujuan rezim otoriter biasanya untuk mengonsolidasikan sumber daya kepada segelintir orang.

Dalam artikelnya, Direktur Iklim, Ekonomi, dan Keadilan Sosial Amnesty International, Marta Schaaf, menulis taktik otoriter yang semakin menguat saat ini, termasuk di negara-negara demokrasi, memperkuat ketergantungan pada bahan bakar fosil. Ia mencontohkan Amerika Serikat (AS) yang menjadi penghasil emisi gas rumah kaca terbesar di dunia.

Dalam artikel opini yang ditulis bersama aktivis Amnesty lainnya, Nazia Erum, Schaaf menilai kini semakin banyak pemerintah yang menggunakan praktik otoriter untuk menguasai infrastruktur bahan bakar fosil, menyerang pakar perubahan iklim, dan mengganggu kohesi sosial yang menuntut perubahan.

Praktik-praktik otoriter ini menghasilkan "lingkaran setan" disinformasi, sabotase regulasi, diplomasi koersif, dan ketergantungan pada bahan bakar fosil yang sudah mengakar. "Hal ini membuat transisi untuk memproduksi energi terbarukan yang berkelanjutan dan adaptasi perubahan iklim yang dapat menyelamatkan nyawa jauh lebih rentan," kata Schaaf dan Erum dalam artikel yang dipublikasikan di situs resmi Amnesty International, Ahad (3/5/2026) lalu.

Schaaf dan Erum membongkar tiga taktik utama rezim otoriter dalam menekan upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. Pertama, rezim otoriter tidak hanya mendiskreditkan gagasan para pakar, tetapi juga memanipulasi ekosistem kritik.

Amnesty mencontohkan laporan yang dirilis Departemen Energi AS pada masa pemerintahan Presiden Donald Trump yang mengungkapkan proyeksi pemanasan global dilebih-lebihkan dan aksi iklim lebih banyak merugikan dibandingkan menguntungkan. Presiden Argentina Javier Milei juga melakukan hal yang sama.

Milei menyebarkan kebohongan perubahan iklim bukan disebabkan oleh aktivitas manusia. Stasiun televisi yang didukung pemerintah Rusia menggelar program pelatihan jurnalistik "alternatif" di Afrika untuk menyeimbangkan liputan perubahan iklim.

Schaaf dan Erum menilai penyebaran informasi palsu hanya bagian dari upaya yang lebih besar untuk merusak kredibilitas ilmuwan iklim. Rezim otoriter juga menyingkirkan para ilmuwan, memotong anggaran institusi penelitian, membatalkan proyek-proyek iklim, serta mendukung platform dan forum-forum pro bahan bakar fosil.

Taktik kedua yang digunakan rezim otoriter adalah mengunci ketergantungan pada bahan bakar fosil di dalam dan luar negeri dengan mengeksploitasi ketergantungan ekonomi dan kekuatan asimetris. Schaaf mencontohkan penangkapan mantan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh pemerintah Trump untuk menguasai cadangan minyak negara Amerika Latin tersebut.

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |