REPUBLIKA.CO.ID, TEL AVIV – Israel menunjukkan tanda-tanda akan kembali melakukan serangan besar-besaran ke Jalur Gaza. Hal ini dilakukan sementara gencatan senjata terus dilanggar pasukan penjajah.
Di Yerusalem, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu tiba-tiba membatalkan pertemuan kabinet keamanan yang dijadwalkan pada Ahad, dan memilih melakukan konsultasi yang lebih kecil. Pada saat yang sama, militer telah meningkatkan tekanan untuk melanjutkan serangan ke Gaza.
Seorang pejabat senior di Staf Umum militer Israel mengatakan kepada Channel 15 bahwa agresi kembali ke Gaza “hampir tidak bisa dihindari”. Ia mengutip penolakan Hamas untuk menyerahkan senjatanya dan dugaan “kegagalan” Pasukan Stabilisasi Internasional, sebuah badan multinasional yang dikerahkan berdasarkan kerangka gencatan senjata baru-baru ini untuk mengawasi keamanan dan mengelola implementasi gencatan senjata.
Radio Angkatan Darat Israel melaporkan bahwa di lapangan, militer terus memperluas wilayah yang dikuasainya di wilayah kantong yang terkepung. Dengan secara bertahap mendorong “Garis Kuning” yang ditetapkan sebagai “gencatan senjata” ke arah barat.
Pasukan Israel sejauh ini telah memperluas kendali teritorial mereka hingga 59 persen wilayah Jalur Gaza, mengatur pendudukan mereka melalui pelanggaran harian terhadap “gencatan senjata” dan memindahkan pasukan tambahan dari front Lebanon ke Gaza dan Tepi Barat yang diduduki.
Meskipun ada “gencatan senjata” sejak Oktober, keluarga-keluarga terus mengeluarkan jenazah dari reruntuhan. Menurut sumber medis setempat, 828 warga Palestina telah terbunuh sejak “gencatan senjata” dimulai.
Kini, keluarga-keluarga di Gaza bersiap menghadapi serangan baru ketika pejabat Israel mengancam akan membatalkan perjanjian rapuh tersebut untuk memaksa penyerahan diri.
Di Kairo, para mediator memberikan tekanan kuat pada faksi-faksi Palestina agar menerima kerangka kerja baru yang didorong oleh Nikolay Mladenov, perwakilan tinggi Dewan Perdamaian yang didukung Amerika Serikat.
Abdul Jabbar Said, anggota biro politik Hamas, mengatakan kepada situs Palestina Ultra Palestine bahwa Mladenov telah mencoba menerapkan peta jalan yang mengharuskan pelucutan senjata Hamas sepenuhnya dalam waktu 281 hari dalam lima tahap.
Rencana tersebut, yang didasarkan pada 20 poin visi Presiden Amerika Serikat Donald Trump, secara ketat mengatur bantuan kemanusiaan, rekonstruksi dan pembukaan penyeberangan ke Gaza dengan penyerahan senjata secara bertahap. Para analis dan pejabat Palestina sebelumnya mengatakan kepada Aljazirah bahwa kerangka kerja ini dirancang untuk menegakkan “penyerahan politik” sepenuhnya dari kelompok bersenjata.

3 hours ago
1
















































