jahra.tf
Agama | 2026-05-03 23:12:04
Di tengah hiruk-pikuk kehidupan yang serba cepat, manusia kerap sibuk mengejar apa yang belum dimiliki hingga lupa menghitung apa yang telah ada. Rasa syukur menjadi sesuatu yang sunyi—tidak selalu diucapkan, tetapi terasa dalam hati yang lapang dan sikap yang sederhana.
Dalam perspektif Islam, syukur bukan sekadar ucapan “alhamdulillah”, melainkan kesadaran utuh atas nikmat Allah yang diwujudkan melalui hati, lisan, dan perbuatan. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.’”(QS. Ibrahim: 7)
Ayat ini menegaskan bahwa syukur memiliki dampak nyata: bukan hanya menenangkan jiwa, tetapi juga membuka pintu keberkahan dalam hidup. Namun, realitasnya, banyak orang baru menyadari arti syukur setelah kehilangan.
Dalam kehidupan sehari-hari, syukur dapat direalisasikan melalui hal-hal sederhana. Bangun pagi dengan tubuh yang sehat, misalnya, bukan sekadar rutinitas, melainkan nikmat yang sering luput disadari. Menggunakannya untuk beribadah, belajar, atau bekerja dengan sungguh-sungguh adalah bentuk syukur yang nyata.
Syukur juga tercermin dari cara seseorang menghadapi keterbatasan. Ketika keinginan tidak tercapai, hati yang bersyukur tidak mudah mengeluh. Ia memilih percaya bahwa apa yang dimiliki saat ini adalah yang terbaik menurut ketentuan-Nya.
Selain itu, berbagi kepada sesama menjadi wujud syukur yang lebih luas. Memberi, sekecil apa pun, menunjukkan bahwa seseorang tidak hanya menikmati nikmat, tetapi juga mengalirkannya kepada orang lain. Dalam hal ini, syukur tidak berhenti pada diri sendiri, melainkan berdampak sosial.
Menariknya, syukur tidak selalu lahir dari kelimpahan. Justru, dalam kondisi sulit, syukur menjadi lebih bermakna. Ia hadir sebagai bentuk keimanan—meyakini bahwa di balik setiap ujian, tersimpan hikmah yang belum tentu langsung terlihat.
Di era media sosial, ketika pencapaian orang lain mudah terlihat, rasa kurang sering kali muncul tanpa disadari. Di sinilah syukur berperan sebagai penyeimbang, agar manusia tidak terjebak dalam perbandingan yang melelahkan.
Pada akhirnya, syukur bukan tentang seberapa banyak yang dimiliki, tetapi seberapa dalam seseorang mampu menerima dan menghargai hidupnya. Ia mungkin tak selalu bersuara, tetapi dampaknya nyata—menenangkan hati, menguatkan langkah, dan mendekatkan manusia kepada Tuhannya.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

3 hours ago
1

















































