Dari Kebun hingga Liwet, The Lodge Maribaya Kenalkan Kuliner Sunda

1 day ago 6
Dari Kebun hingga Liwet, The Lodge Maribaya Kenalkan Kuliner Sunda Anak-anak ikut memanen sayuran saat kegiatan bertajuk Ladang & Hidang : The Lodge Maribaya Gastronomy Experience.(MI/DEPI GUNAWAN)

PULUHAN orang dari luar kota antusias mengunjungi kebun untuk mengenal beragam jenis sayuran. Tak hanya melihat, mereka juga berkesempatan memanen sayuran sekaligus bertemu langsung dengan para petani.

Setelah sekitar setengah jam berkegiatan di kebun, para peserta kemudian menuju The Lodge Maribaya untuk melihat langsung proses pembuatan nasi liwet. Kegiatan pun ditutup dengan menyantap liwet bersama-sama.

Acara yang bertajuk Ladang & Hidang : The Lodge Maribaya Gastronomy Experience Edition 01 ini digelar di The Pines, The Lodge Maribaya Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Minggu (6/9). Acara melibatkan sekitar 70 peserta yang berasal dari wilayah Bandung Raya.

"Dari mulai diajak ke kebun untuk tahu cara menanam sayuran itu seperti apa, memanen, lalu melihat bagaimana proses liwet dibuat dan akhirnya kita memakannya bersama," kata General Manager The Lodge Maribaya, Zahrani Hasya.

Konsep tersebut merupakan bagian dari upaya The Lodge Maribaya memadukan wisata alam dengan wisata kuliner sekaligus memperkenalkan kekayaan pangan dan budaya Sunda kepada wisatawan dari berbagai daerah.

"Kita mau lebih menceritakan tentang makanan apa sih sebetulnya yang khas Sunda yang bisa dinikmati teman-teman semuanya, tidak hanya orang Sunda saja yang bisa menikmati kegiatan ini, tapi semuanya bisa menikmati," ujarnya.

Kegiatan ini juga mengajak peserta menikmati suasana alam The Lodge Maribaya sekaligus mengenal lingkungan Desa Cibodas.

"Sambil ngaliwet ada pemandangan hamparan hutan pinus. Kita juga mau mengenalkan tamu-tamu yang datang pada Desa Cibodas," tuturnya.

Tak hanya orang dewasa, anak-anak juga terlihat antusias mengikuti kegiatan berkebun. Mereka diajak berinteraksi langsung dengan alam, mulai dari bertemu petani, memanen tanaman, hingga bermain dengan tanah.

"Anak kecil bisa main sensori di situ, pegang tanah dan lain-lain. Jadi anak kecil juga bermain di alam, keluarganya juga benar-benar berinteraksi dengan anaknya di sana. Dia juga merasakan hadir di alam seutuhnya, makan juga di alam," ucap Zahrani.


TRADISI KEBERSAMAAN


Ia mengatakan, esensi ngaliwet terletak pada tradisi kebersamaan masyarakat Sunda, mulai dari duduk bersama, berbagi lauk, memasak bersama hingga saling berbagi makanan.

"Jadi bukan hanya nasi liwetnya saja, tapi sebetulnya budaya ngaliwet itu apa sih, dari duduk bersama, berbagi lauk, masak bersama, ada yang bawa ini dari rumahnya, akhirnya di situ berbagi bersama," lanjutnya.

Salah seorang peserta, Hanifah asal Rancaekek senang bisa mengikuti kegiatan tersebut bersama anak-anaknya. Terlebih keseharian mereka lebih banyak berada di lingkungan perkotaan.

"Senang dan bersyukur karena bisa memperkenalkan anak mengenai karunia ciptaan Allah berupa alam yang indah seperti ini," ungkapnya.

Dia mengaku baru pertama kali mengajak anak-anaknya mengikuti kegiatan berkebun di area yang cukup luas. Meski di daerah tempat tinggalnya juga ada beberapa perkebunan kecil, pengalaman tersebut menjadi hal berbeda bagi keluarganya.

Dalam kegiatan tersebut, Hanifah juga menanamkan nilai-nilai ketauhidan kepada anak-anaknya melalui pengalaman berinteraksi langsung dengan alam.

"Tentu saja nilai-nilai tauhid, bagaimana tanaman ini merupakan salah satu ciptaan Allah dan ini tumbuh atas izinnya. Jadi lebih ke menanamkan nilai-nilai ketauhidan," tandasnya.

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |