Ekonomi AS Kehilangan 23 Ribu Pekerjaan, Pukulan Baru bagi Donald Trump

4 days ago 5
Ekonomi AS Kehilangan 23 Ribu Pekerjaan, Pukulan Baru bagi Donald Trump Ilustrasi.(Magnific)

EKONOMI Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump menghadapi tantangan serius setelah Departemen Tenaga Kerja melaporkan penurunan jumlah lapangan kerja yang tidak terduga pada bulan lalu. Laporan ini menjadi sinyal peringatan bagi administrasi Trump di tengah upaya menjaga stabilitas ekonomi.

Berdasarkan Ringkasan Situasi Ketenagakerjaan bulanan yang dirilis oleh Bureau of Labor Statistics (BLS) pada Jumat (7/8), ekonomi AS kehilangan 23.000 pekerjaan pada Juli. Angka ini berbanding terbalik dengan perkiraan analis yang memprediksi penambahan 80.000 lapangan kerja. Data ini juga menunjukkan penurunan tajam dibandingkan bulan Juni yang hanya mencatat kenaikan 20.000 pekerjaan setelah direvisi.

Meskipun terjadi kehilangan pekerjaan, tingkat pengangguran justru turun tipis menjadi 4,1% dari sebelumnya 4,2%. Penurunan ini disebut terjadi karena ada pergeseran berkelanjutan dalam struktur keseluruhan angkatan kerja di Amerika Serikat.

Data yang Mengejutkan Pasar

Laporan Juli menandai bulan kedua berturut-turut saat angka ketenagakerjaan berada di bawah ekspektasi. Sebelumnya, data Mei dan Juni juga mengalami revisi ke bawah yang signifikan. BLS mencatat bahwa gabungan lapangan kerja pada Mei dan Juni ternyata 103.000 lebih rendah dari yang dilaporkan sebelumnya.

James Bentley, direktur platform edukasi finansial Financial Markets Online, menyebut angka utama itu sebagai kegagalan besar. "Ekspektasi median adalah ekonomi AS menambah 80.000 pekerjaan. Fakta bahwa ekonomi justru berbalik arah adalah kejutan dan tanda bahwa pasar tenaga kerja Amerika jauh lebih lemah dari yang diperkirakan," ujarnya.

Sektor perdagangan ritel dan aktivitas keuangan menjadi penyumbang kerugian terbesar, masing-masing kehilangan 19.000 dan 14.000 pekerjaan. Sebaliknya, sektor layanan kesehatan tetap menjadi mesin pertumbuhan dengan penambahan 22.000 pekerjaan, sementara sektor manufaktur hanya tumbuh tipis sebanyak 5.000 posisi.

Dilema Federal Reserve

Laporan ini muncul di saat Federal Reserve (The Fed) sedang fokus memerangi inflasi. Ketua Fed, Kevin Warsh, sebelumnya menyatakan bahwa pertumbuhan lapangan kerja masih solid, sehingga bank sentral memilih untuk mempertahankan suku bunga tetap pada pertemuan pekan lalu.

Namun, Chris Zaccarelli, Chief Investment Officer di Northlight Asset Management, menilai laporan ini sebagai game changer. "Laporan ini menyoroti risiko yang tertanam di pasar tenaga kerja. Sebelumnya, banyak yang mengira Fed tidak punya pilihan selain menaikkan suku bunga untuk melawan inflasi karena pasar kerja yang kuat, tetapi laporan ini menunjukkan hal itu tidak lagi terjadi," jelasnya.

Implikasi Politik bagi Trump

Pelemahan data tenaga kerja ini diprediksi akan memicu kritik tajam dari Partai Demokrat dan meningkatkan kekhawatiran pemilih terhadap pengelolaan ekonomi oleh Trump. Hal ini menjadi krusial karena inflasi kembali melonjak dan masyarakat mulai merasakan tekanan biaya hidup yang tinggi.

Survei terbaru dari YouGov/Economist menunjukkan tingkat persetujuan publik terhadap penanganan ekonomi oleh Trump hanya berada di angka 30%, sementara 65% menyatakan tidak setuju. Dengan revisi data yang menunjukkan tren pelemahan sejak Mei, klaim administrasi mengenai keberhasilan Trumponomics kini menghadapi ujian berat di mata publik dan investor. (Newsweek/I-2)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |