Yahya Saree.(Al Jazeera)
KETEGANGAN di Yaman mencapai titik didih baru setelah pasukan Houthi yang didukung Iran meluncurkan sedikitnya 12 serangan rudal segar ke provinsi Hadramout dan Marib pada Jumat (7/8). Serangan ini menyusul rentetan drone dan rudal balistik yang menargetkan situs militer koalisi pimpinan Saudi dan pemerintah Yaman pada Kamis (6/8) yang menewaskan sedikitnya 30 tentara.
Eskalasi ini dianggap sebagai yang paling mematikan dalam beberapa tahun terakhir di tengah perang saudara Yaman. Selain korban militer, seorang pejabat senior Arab Saudi melaporkan bahwa serangan Houthi ke wilayah selatan kerajaan pada Kamis melukai 11 warga sipil, termasuk seorang anak kecil yang menderita luka bakar tingkat dua.
Detail Serangan dan Korban Jiwa
Sumber pemerintah Yaman mengonfirmasi kepada Al Jazeera bahwa sedikitnya 30 tentara tewas dan 15 lain luka-luka ketika Houthi menembakkan delapan rudal dari kegubernuran al-Jawf. Serangan tersebut menghantam kamp-kamp militer milik Homeland Shield Forces, Pasukan Darurat, dan Wilayah Militer Pertama di Hadramout dan Marib.
Banyaknya korban jiwa pada Kamis disebabkan karena pasukan sedang berkumpul untuk latihan pagi. Pada Jumat, televisi pemerintah Yaman melaporkan bahwa pertahanan udara pemerintah berhasil menjatuhkan sejumlah drone Houthi di atas langit Marib. Namun serangan rudal terus berlanjut ke benteng-benteng pertahanan pemerintah tersebut.
Keterlibatan Iran dan Ancaman Regional
Intelijen menunjukkan bahwa Houthi dan kelompok bersenjata Irak kemungkinan akan meluncurkan serangan baru di bawah pengawasan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran. Target potensial mencakup infrastruktur energi, pelabuhan, dan bandara di Arab Saudi.
Juru bicara Houthi, Yahya Saree, menyatakan bahwa serangan ini menandai berakhirnya fase deeskalasi dalam perang Yaman. Kelompok tersebut menuduh pemerintah Yaman berkoordinasi dengan Arab Saudi untuk serangan darat potensial terhadap posisi Houthi.
Konteks Regional: Ketegangan ini memburuk sejak perang Amerika Serikat-Israel melawan Iran dimulai pada akhir Februari. Houthi juga memberlakukan blokade maritim terhadap Arab Saudi dan menyerang fasilitas minyak Aramco di Jizan dan Yanbu.
Dampak terhadap Ekonomi Global
Serangan terhadap perusahaan minyak Saudi dan gangguan di Laut Merah memicu kekhawatiran akan stabilitas pasokan energi global. Selat Bab al-Mandeb, yang menghubungkan Laut Merah ke Teluk Aden, merupakan jalur pasokan utama yang menampung sekitar 30 persen lalu lintas kontainer global.
Harga minyak mentah Brent naik menjadi US$83,34 per barel pada Jumat pagi menyusul berita eskalasi ini. Analis memperkirakan biaya pengiriman dan premi asuransi akan terus meningkat jika Houthi memperluas jangkauan serangan mereka lebih jauh ke utara Laut Merah.
Respons Internasional
Sekretaris Jenderal Dewan Kerja Sama Teluk (GCC), Jasem Mohamed Albudaiwi, mengutuk keras serangan terhadap wilayah Najran di Arab Saudi dan menyebutnya sebagai serangan teroris yang melanggar hukum internasional. Arab Saudi mengumumkan pembentukan aliansi internasional baru untuk menjaga keamanan navigasi di Laut Merah dari serangan Houthi.
Meskipun situasi terus memanas, analis dari International Crisis Group, Ahmed Nagi, menilai masih ada jendela kecil untuk deeskalasi melalui pendekatan multi-jalur, termasuk negosiasi mengenai operasional bandara Sanaa dan pelabuhan Hodeidah. Namun, indikator saat ini lebih menunjukkan arah menuju konflik yang lebih luas daripada penahanan diri. (Al Jazeera/I-2)

















































