Fenomena Liga Aspal di Ibu Kota, Bentuk Kritik Atas Keterbatasan Ruang untuk Bermain Sepak Bola

1 day ago 10

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sejumlah anak-anak bertanding sepak bola di jalanan aspal kawasan Menteng, Jakarta Pusat, pada Sabtu (18/7/2026). Para bocah itu tengah memperebutkan gelar juara dalam Liga Aspal, sebuah kompetensi sepak bola yang digelar karang taruna setempat di atas aspal jalan yang disulap jadi lapangan.

Ketua Karang Taruna RW 08 Menteng, Andicka Prasetia, mengatakan Liga Aspal itu muncul dari keterbatasan ruang untuk anak-anak bermain bola di lingkungannya. Pasalnya, saat ini sudah tidak ada lagi lahan kosong di kawasan itu yang bisa digunakan anak-anak bermain sepak bola dengan selayaknya.

"Kan di wilayah kita ini di RW 08 ya, Kelurahan Menteng itu kan enggak punya lapangan kan? Nah, kita itu setiap hari tuh melihat anak-anak lah suka main bola di jalanan, setiap sore itu setiap hari," kata dia saat dihubungi Republika, Ahad (19/7/2026).

Ia mengakui, di dekat lingkungan itu terdapat lahan milik PT KAI yang sudah lama terbengkalai. Namun, warga sekitar tidak diberikan izin dari BUMN tersebut untuk memanfaatkan lahan terbengkalai itu menjadi lapangan tempat anak-anak bermain sepakbola.

Menurut Andicka, warga sekitar sempat mengurus proses perizinan untuk memanfaatkan lahan terbengkalai itu. Bahkan, warga sudah berinisiatif untuk membersihkan lahan yang disebut kotor tersebut.

"Nah, kita udah bersihin kurang lebih 3 bulan berjalan. Itu bener-bener dari lahan-lahan yang kotor banget, hancur, banyak sampah, itu bener-bener rata gitu sama tanah, bersih," kata dia.

Namun, surat balasan dari PT KAI baru muncul setelah lahan itu bersih. Alih-alih memberikan izin kepada warga, KAI justru menjabarkan sejumlah regulasi dalam pemanfaatan lahan tersebut.

"Nah, surat dari KAI itu cuman isinya yang pasal-pasal yang seolah-olah tuh kayak kita tuh mau mengambil alih lahannya itu. Iya, intinya dilarang lah, enggak boleh memakai lahan itu," ujar Andicka.

Meski begitu, warga sekitar tidak kehilangan akal untuk tetap memfasilitasi anak-anak bermain bola. Karena itu, karang taruna setempat berinisiatif menggelar Liga Aspal di jalan lingkungan.

"Makanya kan kenapa akhirnya Liga Aspal ini ada, kan. Ya karena kita memang keterbatasan ruang gitu, kita enggak ada lapangan, makanya kita main di jalanan," kata dia.

Andicka mengatakan, Liga Aspal itu mempertemukan 10 tim yang berisi anak-anak usia 8-13 tahun dari lingkungan sekitar. Laga itu dimulai setiap Sabtu dan Ahad sejak 20 Juni 2026.

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |