Ilustrasi.(Magnific)
INTELIJEN Amerika Serikat (AS) menilai bahwa Iran bertekad untuk meningkatkan eskalasi perang dengan Washington dan memperpanjang konflik tersebut setidaknya selama beberapa bulan ke depan. Laporan yang dirilis The New York Times pada Rabu (4/9/2026) menyebutkan bahwa langkah ini diambil Teheran dengan mempertimbangkan momentum politik di AS.
Strategi Politik dan Tekanan Ekonomi
Berdasarkan dokumen intelijen beberapa pekan terakhir, Iran diyakini berupaya memperpanjang konflik setidaknya hingga pemilihan paruh waktu (midterm elections) pada November mendatang. Teheran menilai bahwa kelanjutan perang dan tingginya harga bahan bakar akan merugikan secara politik bagi Presiden Donald Trump dan Partai Republik.
Laporan tersebut juga mengungkapkan bahwa Iran merasa lebih percaya diri dengan kemampuan militernya setelah enam bulan terlibat dalam konflik. Teheran menilai AS akan kesulitan melakukan serangan besar-besaran karena menipisnya stok amunisi Washington. Selain itu, Iran merasa memiliki posisi tawar kuat melalui kendali atas Selat Hormuz serta kepemilikan stok besar rudal dan drone.
Eskalasi Serangan di Lapangan
Ketegangan fisik terus meningkat meski kedua negara sempat mencapai kesepakatan gencatan senjata pada April lalu. Berikut rangkaian insiden terbaru yang memperburuk situasi:
- Serangan ke Yordania: Media pemerintah Iran menyatakan Teheran menembakkan rudal dan drone ke pangkalan AS di Yordania pada Selasa lalu.
- Balasan AS: Iran melaporkan 11 orang tewas akibat dua serangan terpisah AS di wilayahnya pada Rabu. Sebelumnya, serangan AS pada acara pernikahan dilaporkan menewaskan empat orang dan melukai lebih dari 50 lain.
- Deteksi Israel: Militer Israel mengonfirmasi ada peluncuran rudal Iran yang mengarah ke wilayah Yordania.
Ancaman Serangan ke Pickaxe Mountain
Merespons situasi yang memanas, Presiden Donald Trump memberikan peringatan keras. Trump menyatakan bahwa AS berhasil mencegah Iran memperoleh senjata nuklir dalam lima bulan terakhir dan mengancam akan melakukan serangan balasan yang menghancurkan jika situasi memburuk.
"Jika kita tidak masuk ke sana, Anda tidak akan memiliki Israel saat ini, Anda tidak akan memiliki Timur Tengah, dan mereka mungkin akan menyerang kota-kota di Eropa dan kota-kota kita selanjutnya," ujar Trump pada Jumat (30/8/2024).
Trump secara spesifik menyebut kemungkinan serangan terhadap Pickaxe Mountain, lokasi yang terletak sekitar 1,5 kilometer di selatan fasilitas nuklir Natanz. Lokasi ini menjadi perhatian setelah laporan Wall Street Journal pada Juli lalu menyebutkan intelijen Israel meyakini Iran telah memindahkan ribuan sentrifugasi pengayaan uranium ke dalam terowongan jauh di bawah gunung tersebut.
Catatan Redaksi: Hingga saat ini, belum ada tanda-tanda kepemimpinan Iran bersedia mencapai kesepakatan baru dengan Amerika Serikat, sementara ketegangan di Selat Hormuz terus membayangi stabilitas ekonomi global. (Haaretz/I-2)


















































